Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Program Tanaman Sela Kakao Bantu Pendapatan Petani Kolaka Utara

Pengamatan dan hasil kerja BPS melalui sistem pengukuran produktivitas pertanian khususnya sektor tanaman sela telah berhasil mendongkrak pendapatan masyarakat Kolut.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  15:25 WIB
Petani memanen jagung. - Antara/Basri Marzuki
Petani memanen jagung. - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, KENDARI - Program kegiatan revitalisasi pertanian sub program revitalisasi kakao yang selama ini menjadi program unggulan pemerintah Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) Sulawesi Tenggara mencatat bahwa melalui tanaman sela khususnya jagung berhasil menaikkan pendapatan masyarakat di daerah itu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kolaka Utara, Sablin melalui keterangan tertulis, Senin (20/1/2020) menyatakan, berdasarkan pengamatan dan hasil kerja BPS melalui sistem pengukuran produktivitas pertanian khususnya sektor tanaman sela telah berhasil mendongkrak pendapatan masyarakat Kolut.

"Jadi, tanaman sela khususnya jagung inilah yang mendongkrak dan menopang pendapatan masyarakat Kolut selama produksi kakao belum berhasil. Luar biasa peningkatannya dibanding tahun-tahun yang lalu dan puncak produksinya itu di tahun 2018 dengan luas panen 13.848,30 hektare dengan produksi 83.828,22 ton," katanya.

Menurut Sablin, peningkatan produktivitas jagung ini, baru nampak setelah Pemkab Kolut mencanangkan program revitalisasi kakao dan menjadikan jagung sebagai tanaman sela untuk menopang perekonomian petani selama kakao belum bisa dipanen.

"Berdasarkan hasil ubinan kami tahun 2018 untuk mengukur produksi jagung petani per hektar, itu rata-rata produksinya sampai 6 ton. Bahkan 2019 ada yang mencapai 9 ton per hektar," katanya.

Sablin menghitung, jika masyarakat menanam jagung dengan luas satu hektar dan produksi 6 ton per rumah tangga untuk satu kali panen, dengan harga terendah misalnya Rp3.000/kg berarti petani bisa menghasilkan uang Rp18 juta perempat bulan. Kalau masyarakat menanam minimal dua kali per tahun, maka mereka bisa mendapatkan pemasukan dari tanaman sela ini sebanyak Rp36 juta per tahun.

"Tidak usah satu hektare, setengah hektare saja dengan produksi 3 ton itu sudah bisa menghasilkan Rp18 juta per tahun dan penghasilan ini tidak pernah ada sebelumnya," katanya.

Sementara untuk data 2019 belum bisa diumumkan, tapi berdasarkan ubinan yang telah dilakukan BPS Kolaka Utara, produksi jagung di tahun 2019 hasilnya tidak jauh berbeda dengan 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao kendari sulawesi tenggara

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top