Jelajah Investasi 2023: Diversifikasi Sumber Pertumbuhan, Sulsel Dorong Investasi Empat Kawasan Industri

Ada empat kawasan industri yang memiliki potensi besar dalam menarik para calon penanam modal, untuk prioritas tahun ini.
Ada empat kawasan industri yang memiliki potensi besar dalam menarik para calon penanam modal, untuk prioritas tahun ini. Bisnis-Paulus Tandi Bone.
Ada empat kawasan industri yang memiliki potensi besar dalam menarik para calon penanam modal, untuk prioritas tahun ini. Bisnis-Paulus Tandi Bone.

Bisnis.com, MAKASSAR - Diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tengah intensif dilakukan melalui skema sinergitas lintas sektoral dengan memacu invenstasi berbagai sektor di daerah tersebut.

Bahkan, Bank Indonesia Provinsi Sulsel dan pemerintah daerah sudah mengindentifikasi serta memetakan potensi strategis pengembangan investasi Sulsel untuk dijajakan kepada para calon investor tahun ini. Fokus mereka salah satunya mendorong klasterisasi industri yang didukung dengan keberadaan kawasan industri.

Ada empat kawasan industri yang memiliki potensi besar dalam menarik para calon penanam modal, untuk prioritas tahun ini. Antara lain Kawasan Industri Bantaeng (KIBA), Kawasan Industri dan Pergudangan Parepare dan Sekitarnya (KIPAS), Budidaya Sapi Potong Kabupaten Bone, dan Budidaya Rumput Laut Kabupaten Takalar.

Dari keempatnya, KIBA mulai menunjukkan progres paling maju. Dari perencanaan nilai investasi yang mencapai Rp183 juta, Pemerintah Provinsi Sulsel telah mengabarkan bahwa sudah ada investor asal Inggris yang tertatik menanamkan modalnya senilai Rp135 triliun.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan jika rencana investasi ini berkat dorongan dari pemerintah dalam memfasilitasi feasibility study (FS) atau studi kelayakan pengembangan KIBA yang telah digodok dua tahun terakhir atau pada 2021 lalu.

“Kita sudah alokasikan Rp650 juta untuk studi kelayakan pengembangan KIBA. Kini mulai memperliatkan hasil berkali-kali lipat. Kabupaten Bantaeng dilirik investor dari Inggris dengan nilai investasi kurang lebih sekitar US$9 miliar atau sekitar Rp135 triliun," katanya, Kamis (22/6/2023).

Kawasan ini direncanakan dibangun di atas lahan seluas 3.151 hektar yang saat ini tingkat akuisisinya telah mencapai 15 persen. Di lokasi ini, nantinya akan diklasterkan menjadi empat spesialisasi yaitu perikanan, utilitas, smelter, serta pengolahan dan manufaktur.

"Untuk memastikan kawasan industri mendukung pelestarian lingkungan, KIBA mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu yang dapat memasok listrik hingga 1.000 MW," tambahnya.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulsel Causa Iman Karana mengatakan kawasan industri lainnya yang berpotensi menarik investor tahun ini adalah sektor peternakan yang selama ini kurang mampu memikat pemodal skala besar.

"Sulsel memiliki potensi yang besar pada sektor peternakan, namun memang belum tergarap secara maksimal untuk menjadi sebuah industrial. Memang beberapa kabupaten selama ini dikenal sebagai penghasil komoditas hasil peternakan, namun tergarap masih parsial sehingga potensi ekonominya belum optimal," papar Causa.

Selain itu, sektor maritim Sulsel seperti rumput laut tersebar pada wilayah pesisir Sulsel yang juga memiliki ruang yang sangat mumpuni untuk menarik investor. Rumput laut sendiri merupakan salah satu sumber daya hayati yang paling melimpah di perairan Indonesia sebesar 8,6 persen dari total biota laut dan merupakan yang terbesar di dunia dengan luas 1,2 juta hektar.

Di Sulsel, produksi rumput laut Sulsel hingga triwulan III/2022 tercatat telah mencapai 2,86 juta ton atau senilai Rp10,47 triliun, tertinggi dibanding semua komoditas perikanan lainnya. Angka ini terus dikebut hingga bisa menyamai produksi sepanjang 2021 yang mencapai 3,78 juta ton.

Pada segmen lainnya, ada pula Kawasan Industri dan Gudang Parepare dan Sekitarnya (KIPAS) yang terletak di Lapadde, Kota Parepare. Proyek ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang akan mempercepat penciptaan nilai tambah barang dan jasa. Diharapkan dapat mendongkrak daya saing Kota Parepare.

Wali Kota Parepare Taufan Pawe mengungkapkan, sejak 2018, Gudang Bulog telah memberi kepastian akan menempati kawasan ini untuk kawasan gudang di area tersebut. Gudang beras di kawasan ini nantinya dapat menampung hingga 110.000 ton beras.

Akses jalan utama juga telah dibangun dengan luasan 20m x 400m. Infrastruktur pendukung antara lain ada Terminal Tipe C Lapadde yang berada di dekat area Gudang dan akses ke kereta api dan pelabuhan kering.

"Infrastruktur jalan sebagai akses antara pelabuhan dan kawasan industri, jadi kawasan dapat diakses dari segala penjuru tanpa melewati pusat Kota Parepare dengan infrastruktur jalan yang sangat luas," katanya.

Taufan menambahkan, KIPAS memiliki lokasi yang sangat strategis, area pengembangan yang tersedia, dan beberapa infrastruktur, antara lain luas gudang mencapai 105 hektar, terminal kontainer, Pasar Induk Beras dengan kapasitas 100.000 ton perhari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper