Sulut Maksimalkan Penerbangan Manado-Davao untuk Perdagangan dan Pariwisata

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengkaji rencana pemanfaatan rute penerbangan langsung Manado—Davao untuk memaksimalkan potensi sektor pariwisata dan perdagangan.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  17:00 WIB

Bisnis.com, MANADO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengkaji rencana pemanfaatan rute penerbangan langsung Manado—Davao untuk memaksimalkan potensi sektor pariwisata dan perdagangan.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dikabarkan akan menerbangi rute Manado—Davao sebanyak dua kali seminggu, setiap Jumat dan Senin. Penerbangan perdana akan dilaksanakan Jumat, 27 September dengan menggunakan pesawa tipe ATR 72.

Kepala Dinas Pariwisata Sulut Daniel Mewengkang mengatakan, rencana penerbangan ini tinggal menunggu kesepakatan secara teknis dari Filipina. Secara umum, menurutnya maskapai pelat merah itu hampir pasti menerbangi rute baru ini.

“Kalau dia [Filipina] sudah setuju tanggal [27 September], maka dia akan masuk ring empat, yaitu tahapan untuk menyatakan ini oke. Pada tahap ini kami sudah oke, tinggal tahap empat harus tanya dulu ke Davao, kesiapannya seperti apa,” ujarnya Senin, (28/6/2019).

Rute penerbangan ini diproyeksikan tidak terlalu mendatangkan banyak wisatawan mancanegara (wisman) dari Filipina. Karakteristik alam dan pariwisata yang tidak jauh berbeda membuat Sulut bukan tujuan yang menarik bagi warga Filipina.

“Ini lebih karena kami punya hubungan emosional dengan Filipina, karena banyak orang Sangihe, orang Talaud yang juga sering ke Davao,” ujarnya.

Menurutnya, pasar utama yang dapat ditargetkan dari rute penerbangan ini adalah wisman dari Korea Selatan. Dia menjelaskan, ada sekitar 1 juta orang wisman asal Negeri Ginseng yang datang ke Filipina setiap tahunnya.

Saat ini, belum ada rute penerbangan langsung dari Korea Selatan ke Sulut. Wisman dari negara itu harus terbang ke Jakarta atau Singapura terlebih dahulu untuk pergi ke Manado. Daniel menilai rute ini akan meningkatkan daya tawar Sulut kepada wisman Korea Selatan karena memberikan harga lebih murah dan waktu perjalanan yang lebih singkat.

“Dari korea, dari Seoul ke Jakarta berapa jam itu sekitar 5 jam, terus ke Manado 3 jam lagi. Sekarang dia cuma 4 jam sampai Filipina, tambah ke Sulut dua jam, jadi cuma 6 jam perjalanannya. Air fare-nya juga jadi lebih murah, katanya sekitar US$150 per orang untuk bolak balik,” jelasnya.

Kendati demikian, GM Garuda Indonesia Cabang Manado Mac Fee Kindangen mengatakan pihaknya belum dapat memastikan jadwal rencana penerbangan itu. Direksi perseroan belum memberikan lampu hijau untuk usulan rencana kali penerbangan dalam seminggu.

“Kami mau dua kali, tapi pusat maunya satu kali. Jadi terkait jadwal penerbangannya belum dapat dipastikan, masih dibahas secara internal,” ujarnya

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulut Edwin Silangen menyatakan pihaknya mendukung penuh rencana penerbangan itu. Dia mengharapkan setiap Dinas Pariwisat di tingkat kota dan kabupaten dapat memenfaatkan penerbangan ini untuk menggenjot kunjungan wisman.

Dia menambahkan, Pemprov melalui Gubernur Sulut Olly Dondokambey sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Menurutnya, Kementerian Perhubungan akan melakukan koordinasi internal untuk membantu kelancaran rencana penerbangan itu.

“Pemerintah kabupaten dan kota mendukung sepenuhnya kesinambungan penerbangan perdana Manado-Davao dan vice versa. Dispar tiap bulan akan mengevaluasi, kalau penerbangan ini sudah berjalan,” tuturnya.

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA) Sulut bekerja sama dengan Garuda Indonesia untuk membuat paket pariwisata baru dengan adanya rute penerbangan ini. Paket itu diharapkan dapat memaksimalkan potensi wisata setiap kabupaten dan kota di Sulut.

Sejauh ini, wisman yang datang ke Sulut hanya difokuskan ke beberapa daerah tertentu, khususnya Manado. Padahal, menurutnya, 14 kabupaten dan kota lainnya juga memiliki potensi besar. Dia menegaskan, Pemprov akan berkoordinasi dengan Pemda untuk memaksimalkan potensi setiap kabupaten dan kota.

“Masing-masing kabupaten kota punya kekhususan dan bisa dijual. Dalam APBD [Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah] 2020 kalau bisa 15 kabupaten kota yang punya kegiatan pariwisata bisa dibantu, melalui koordinasi,” jelasnya.

Tingkat kunjungan wisman ke Sulut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terbantu oleh adanya penerbangan langsung dari China. Pada tahun lalu, total kunjungan wisman ke Manado mencapai 122.100 orang, sedangkan hingga Juni telah mencapai 61.290 orang.

Daerah Bolaang Mongondow Raya atau daerah kepulauan di Sulawesi Utara sejauh ini belum dapat merasakan dampak peningkatan kunjungan wisman itu. Keterbatasan akes dinilai menjadi salah satu penyebabnya.

“Kunjungan wisata ke Bolmong Raya sebenarnya sudah banyak, tetapi kami akses. Kunjungan ke sana butuh 3 jam setengah perjalanan dari Bandara. Udah capek di perjalanan. Jadi destinasi budaya, tempat-tempat yang bisa dikunjungi itu sulit,” kata Kadispar Kab. Bolaang Mongondow Ulfa Paputungan.

Kendati demikian, Edwin mengatakan dampak dari pertumbuhan sektor pariwisata tidak terbatas pada jumlah kunjungan wisatawan langsung ke daerah. Menurutnya, Bolaang Mongondow yang selama ini menjadi daerah penyangga produksi hasil pertanian turut mendapatkan dampak positif.

“Bolmong raya ini mendapatkan keuntungan sebagai penyangga pangan. Jadi bukan berarti 15 kabupaten kota tidak dapat apa-apa dari pariwisata. Pemprov dan Pemda ini harus satu visi dalam pembangunan masyarakat masing-masing,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kabag Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulut Darwin Muksin mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pelaku usaha untuk memanfaatkan penerbangan itu sebagai upaya untuk memperluas kerja sama dan misi dagang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sulawesi utara, manado-davao

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top