Media Sosial Topang Pertumbuhan UKM di Sulut

Para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Sulawesi Utara mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Selain lebih murah, media sosial juga menawarkan pangsa pasar yang lebih spesifik.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 06 Maret 2019  |  17:40 WIB
Media Sosial Topang Pertumbuhan UKM di Sulut
Ilustrasi UKM - ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Bisnis.com, MANADO—Para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Sulawesi Utara mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.

Selain lebih murah, media sosial juga menawarkan pangsa pasar yang lebih spesifik.

Facebook menjadi salah satu pilihan favorit para pelaku UKM di Manado. Pembukaan akun bisnis secara gratis, dan harga pemasangan iklan yang terjangkau menjadi daya tarik utama.

Selain itu, Facebook juga lebih menarik karena dapat langsung terhubung ke Instagram.

Jefry Kalangit, salah satu pendiri agensi wisata dengan merek Wisata Sulut mengatakan bagi bisnisnya yang diawali dari komunitas Facebook sangat menarik.

Dalam sebulan dia hanya perlu mengeluarkan biaya iklan sebesar Rp500.000—Rp1 juta.

“Promosi awalnya susah karena keterbatasan dana, akhirnya kami menemukan halaman Facebook, bujet untuk iklan di situ murah, dan target audiensnya lebih terfokus, sekarang pengikut kami sudah sektar 22.000,” ujarnya di Manado, Rabu (6/3/2019).

Tak hanya menggunakan Facebook dan Instagram, dia menggunakan Whatsapp Bisnis untuk memudahkan pengelolaan bisnisnya.

Pengaturan auto-reply untuk konsumen, menurutnya membuat komunikasi menjadi lebih mudah.

Penggunaan Facebook sebagai pendorong kegiatan UKM juga dirasakan oleh pengusaha kuliner. Salah satunya adalah Ivanry Matu yang sukses dengan Restoran Ocean 27.

Menurutnya, apabila tidak memanfaatkan media sosial, bisa jadi usahanya tersebut telah gulung tikar sejak lama.

“Kalau tidak pakai iklan Facebook, mungkin restoran saya sudah tututp, itu contoh bagaimana media sosial penting untuk mempertahankan usaha itu tetap eksis,” katanya.

Dia menjelaskan, biaya iklan yang harus dibayarkannya tidak terlalu besar, hanya mencapai sekitar Rp15.000 perhari, tak jauh berbeda dengan Jefry.

Namun, dampaknya terhadap keberlangsungan bisnisnya cukup besar.

Pria yang juga menjabat Wakili Ketua Umum Bidang UMKM Kamar Dagang Industri (Kadin) Sulawesi Utara itu mengatakan bahwa media sosial bukan hanya sebagai ajang promosi, tapi dia juga menjadi inspirasi bagi para pelaku bisnis untuk mengemabangkan usahanya.

Menurutnya, Kadin juga mendorong penggunaan Facebook sebagai alat bantu pemasaran kegiatan niaga di Sulawesi Utara.

Dia menyampaikan, hal itu jauh lebih baik daripada hanya digunakan sebagai sarana penyebaran berita bohong yang marak saat ini.

Dia menambahkan dalam 5 tahun terakhir, pertumbuhan pendapatan UKM di Sulut cukup berhubungan erat dengan perkembangan digital.

Menurutnya, kehadiran media sosial menumbuhkan wirausaha baru di Bumi Nyiur Melambai.

“Dalam 5—6 tahun ini peran medsos kepada 3 kelompok ini [UKM] sangat luar biasa, memanad ada korelasi perkembangan digital dan pendapatan bagi teman-teman UKM, itu kurvanya berbanding lurus antara pertumbuhan UKM dan pertumbuhan aktivitas media sosial,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ukm, sulut

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top