Bisnis.com, MAKASSAR - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Selatan menemukan sebanyak 6.000 sapi yang dinyatakan tak layak kurban.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKH Sulsel Syamsul Bahri menyatakan jumlah tersebut merupakan hasil pemeriksaan dari 65.000 ekor sapi kurban yang disiapkan pada Iduladha tahun ini.
"Pemeriksaan dilakukan sejak sepekan kemarin oleh tim yang sudah kami bentuk. Ada beberapa tahapan pemeriksaan untuk sapi kurban," kata Syamsul, Minggu (18/7/2021).
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain pemeriksaan sampel darah untuk mencegah terjadinya virus antraks, kemudian pemeriksaan usia hewan, dan pengecekan kondisi fisik hewan seperti pada kondisi kaki, telinga dan kulit.
Syamsul mengungkapkan, pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai syarat sah hewan yang layak dijadikan kurban atau tidak, baik itu pada sapi maupun kambing. Adapun, hewan yang tidak layak dijual untuk dijadikan kurban yaitu karena dari hasil pemeriksaan ditemukan memiliki kondisi fisik yang cacat.
"Selain itu, beberapa hewan lainnya masih di bawah umur sehingga belum mencukupi usia untuk disembelih. Ada juga yang cacat mata, kakinya pincang, dan ada yang tidak cukup umur. Jadi, tidak diberikan rekomendasi atau surat (kartu) kesehatan kepada pedagang untuk dijual," ungkapnya.
Baca Juga
Pedagang hewan kurban Ibrahim mengatakan, penjualan hewan kurban selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan signifikan. Dibandingkan tahun sebelumnya, ia mampi menjual hewan kurban 200 hingga 300 ekor. Sementata di dua tahun terakhir hanya bisa menjual hingga 150 ekor saja.
"Kondisinya sama di tahun lalu, jumlah sapi maupun kambing yang saya jual tidak sama dengan tahun-tahun lalu," katanya. (k36)