Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wakaf Produktif Berpotensi Dorong Ekonomi Syariah di Sulsel

Jika disimulasikan sebanyak 50 persen dari jumlah penduduk muslim Sulsel berwakaf uang senilai Rp10.000 per bulan, maka proyeksi dana yang terkumpul mencapai Rp39 miliar per bulan.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  14:28 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan di sela-sela penyerahan sertifikat tanah wakaf di Masjid Istiqlal, Bandarjaya, Lampung Tengah, Lampung, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan di sela-sela penyerahan sertifikat tanah wakaf di Masjid Istiqlal, Bandarjaya, Lampung Tengah, Lampung, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, MAKASSAR - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Selatan mendorong pemanfaatan wakaf produktif di Sulsel guna mendukung pembiayaan pembangunan secara masif.

Pemanfaatan wakaf produktif juga menjadi upaya mendorong pembangunan ekonomi, guna memperkuat sistem keuangan daerah. Termasuk dalam pengembangan ekonomi keuangan syariah.

Merujuk data BI, Indonesia memiliki potensi wakaf yang besar. Bahkan tercatat sebagai negara dengan harta wakaf terluas di dunia mencapai 440.000 hektare. Dari jumlah itu sebanyak 73,7 persen pemanfaatannya masih digunakan untuk pembangungan tempat ibadah seperti masjid dan musala.

Sementara, 10,4 persen digunakan untuk pembangunan sekolah atau yayasan, 8,3 persen tujuan sosial lainnya, 4,6 persen sebagai pemakaman umum dan 3 persen lainnya dijadikan pesantren.

Kepala Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Sulsel Endang Kurnia Saputra memaparkan, untuk Sulsel sendiri merupakan daerah dengan kontributor tanah wakaf terluas kedua setelah Provinsi Riau dengan luasan mencapai 102.000 hektare atau 23,4 persen.

"Belum lagi bila melihat potensi wakaf tunai produktif di Sulsel, dengan jumlah penduduk mencapai 8,7 juta jiwa dimana 89,6 persennya merupakan muslim," jelas Endang, Jumat (26/6/2020).

Endang mencontohkan, dengan skema moderat jika disimulasikan sebanyak 50 persen dari jumlah penduduk muslim Sulsel berwakaf uang senilai Rp10.000 per bulan, maka proyeksi dana yang terkumpul mencapai Rp39 miliar per bulan atau mencapai Rp468 miliar per tahun.

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan ekonomi syariah di Sulsel, BI mulai membangun sinergi bersama Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Wakaf Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan seluruh stakeholder terkait, dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, telah mencanangkan program pemberdayaan sumber daya insani melalui penguatan riset, asesmen dan edukasi.

Endang menyebut, hal itulah yang menjadi strategi dasar untuk mencapai tujuan yakni mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia yang dipercaya akan berdampak positif bagi penguatan stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kesejahteraan masyarakat secara umum.

"Termasuk di Sulsel, karena itu kita mulai masif melakukan program kegiatan edukasi ekonomi dan keuangan syariah. Diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif, serta mempersiapkan sumber daya generasi milenial yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi syariah ke depan," jelas Endang.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menyatakan dukungannya dalam mendorong pengembangan ekonomi syariah di Sulsel. Saat ini ekonomi syariah seolah menjadi euforia dengan pangsa pasar Indonesia yang notabene mayoritas berpenduduk muslim.

"Di Sulsel, ekonomi syariah digerakkan dengan model kearifan lokal. Pendekatannya smooth, melakukan edukasi-edukasi," ungkap Sudirman yang juga merupakan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulsel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi syariah sulsel
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top