Inflasi Sulut Desember 2019 Masih Dipengaruhi Harga Tomat Sayur

Pengendalian harga tomat di Provinsi Sulawesi Utara menjadi kunci untuk mendorong terjadinya deflasi dan mencapai target yang dibidik Bumi Nyiur Melambai setelah tingkat inflasi kembali menduduki posisi tertinggi secara nasional pada November 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  18:30 WIB
Inflasi Sulut Desember 2019 Masih Dipengaruhi Harga Tomat Sayur
Pekerja menyortir tomat - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, MANADO—Pengendalian harga tomat di Provinsi Sulawesi Utara menjadi kunci untuk mendorong terjadinya deflasi dan mencapai target yang dibidik Bumi Nyiur Melambai setelah tingkat inflasi kembali menduduki posisi tertinggi secara nasional pada November 2019.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengungkapkan pengendalian inflasi Bumi Nyiur Melambai bergantung kepada kesuksesan dalam menjaga pergerakan harga tomat sayur.

“Mempertimbangkan besarnya kontribusi tomat sayur pada pembentukan inflasi Sulut, maka pergerakan harga komoditas itu perlu diwaspadai dan mendapat perhatian bersama dari seluruh instansi, lembaga, dan dinas terkait terutama pada bulan terakhir 2019,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (2/12/2019).

Untuk mengantisipasi kenaikan harga tomat, Arbonas mengatakan perlu dirumuskan kebijakan jangka pendek yang tepat, sinergis, dan dapat diterapkan. Dengan demikian, harga tomat sayur dapat terkendali pada Desember 2019.

Tekanan inflasi akan kembali meningkat apabila harga tomat mengalami kenaikan melebih level harga yang terbentuk saat ini.

"Sebaliknya, IHK bulanan Sulut berpeluang mengalami deflasi apabila tingkat harga tomat sayur dapat dikendalikan sepanjang Desember 2019,” jelasnya

Dia menjelaskan bahwa pergerakan harga tomat sayur di Sulawesi Utara (Sulut) cenderung berfluktuasi sepanjang 2019.

Komoditas itu sempat mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut pada Februari 2019—April 2019 dan Juli 2019—September 2019.

Kendati demikian, pihaknya memprediksi adanya risiko pembalikan harga atau price reversal tomat sayur pada Oktober 2019—Desember 2019.

Pasalnya, rentang waktu itu merupakan periode permintaan tinggi terhadap tomat sayur di Sulut.

Kendati demikian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara optimistis tingkat inflasi Bumi Nyiur Melambai periode 2019 masih dapat dikendalikan sesuai dengan sasaran inflasi nasional 3,5+-1% apabila harga tomat dapat dikendalikan.

Upaya pengendalian inflasi diklaim terus digenjot oleh BI bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota.

Arbonas menyebut operasi pasar untuk menekan harga tomat sayur di pasar tradisional menjadi salah satu alternatif upaya mengendalikan harga.

Selain itu, pihaknya menilai Satuan Tugas Ketahanan Pangan juga memainkan peran penting dalam mengurangi praktik pembentukan harga yang tidak lazim maupun distorsi pasar lainnya.

“Demikian halnya pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan perluasan akses informasi dan pasokan di pasar juga tetap perlu dilakukan secara intensif,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tomat, Inflasi, sulut

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top