Industri Pengolahan Ikan di Bitung Keluhkan Harga Bahan Baku

Harga bahan baku yang tinggi menjadi kendala utilisasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Bitung.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  18:24 WIB
Industri Pengolahan Ikan di Bitung Keluhkan Harga Bahan Baku
Ikan cakalang. - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, MANADO — Meski total produksi ikan tangkap tumbuh positif, tingkat utilisasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Bitung, Sulawesi Utara belum banyak bergerak. Persoalan harga bahan baku dinilai menjadi kendala utama.

Berdasarkan data Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), hingga akhir semester I/2019, total produksi perikanan di Bitung mencapai 25.778 ton atau tumbuh sekitar 18 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, Ketua Asosiasi Pengolahan Ikan (API) Sulawesi Utara (Sulut) Basmi Said mengatakan harga ikan di Bitung tercatat cukup tinggi. Persoalan ini membuat banyak pelaku industri pengolahan sedikit mengerem laju produksi.

“UPI kapasitas produksi masih belum bergerak. Di Thailand, cakalang itu sekitar Rp17.000-Rp18.000 per kilogram (kg). Kalau di Bitung, sekitar Rp18.500 per kg, jadi banyak yang belum ambil order karena bergerak. Karena memang masih takut dengan harga, jadi lebih banyak ikan diantarpulaukan,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (9/7/2019).

Harga bahan baku yang menurutnya mahal itu juga membuat daya saing produk olahan ikan Bitung kalah jauh dengan negara tetangga. Hal ini menyebabkan tingkat utilisasi UPI di Bitung masih di bawah 20 persen dari kapasitas terpasang.

Persoalan harga juga disebabkan oleh biaya pengiriman yang cukup tinggi. Saat ini, tidak ada jalur ekspor langsung dari Bitung ke AS dan Eropa. Padahal, ekspor langsung dapat menghemat sekitar US$600—US$750 per Full Load Container (FCL).

Basmi mengharapkan pemerintah dapat memfasilitasi ekspor langsung serta menjalin kerja sama perdagangan bebas dengan negara-negara itu. Saat ini, ekspor dari Bitung dikenakan tarif sebesar 20,5 persen. Hal ini membuat harga barang dari Thailand dan Vietnam dapat lebih diterima pasar.

Negara-negara itu, lanjutnya, memiliki akses ekspor langsung dan tidak dikenakan tarif tambahan untuk ekspor. Alhasil, produk pengolahan ikan dari Bitung sulit menembus pasar ekspor.

“Persoalannya, belum mau ambil action karena harga kita kalah. Di penjualan, karena bahan bakunya sudah mahal dan beban cost kami terlalu tinggi, contoh untuk direct export, untuk satu kontainer biayanya besar,” tutur Basmi.

Di samping itu, penerbitan izin usaha perikanan untuk kapal-kapal penangkap diharapkan dapat dipercepat untuk meningkatkan jumlah produksi di Bitung. Harapannya, suplai yang meningkat dapat menurunkan harga di pasar.

“Utilisasi paling tinggi setelah 2015 itu sempat 17,7 persen, sempat turun lagi ke 9 persen, sekarang ini hitungannya sudah naik bagus ke 19,6 persen. Tapi karena harga, mereka tidak mau beli karena. Rugi, harga ikan belinya mahal cost lain-lainnya tinggi, sedangkan permintaan harga rendah,” sambungnya.    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sulut, pengolahan ikan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top