Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Cuaca Ekstrem Bisa Kerek Inflasi Sulsel, BI Ungkap Strategi Pengendalian

Ikan bandeng dan beras diketahui selalu menjadi penyumbang inflasi paling besar di wilayah ini.
Bandeng kerap memicu inflasi di Sulsel./Ist
Bandeng kerap memicu inflasi di Sulsel./Ist

Bisnis.com, MAKASSAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengungkapkan cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah ini pada rentang kuartal III/2024 dan kuartal IV/2024 bisa menjadi tantangan utama pengendalian inflasi Sulsel.

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut bisa mempengaruhi produksi beberapa komoditas utama yang kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar, seperti beras dan ikan bandeng.

Kepala KPwBI Sulsel Rizky Ernadi Wimanda mengungkapkan, potensi penurunan produksi beras akibat kondisi cuaca ekstrem menjadi ancaman pengendalian inflasi Sulsel tahun ini, apalagi penyerapan cadangan beras pemerintah (CBP) baru terlaksana di sembilan kebupaten/kota.

Ditambah lagi, perubahan suhu muka air secara ekstrem bisa mempengaruhi produksi ikan bandeng. Di mana ikan bandeng dan beras diketahui selalu menjadi penyumbang inflasi paling besar di wilayah ini. Artinya jika produksi dua komoditas ini terhambat, maka inflasi Sulsel sulit terkendali.

Oleh karena itu, pemerintah direkomendasikan segera mengambil langkah konkret terkait tantangan itu. Misal dengan menggenjot ketersediaan pangan melalui penguatan CBP khususnya pada periode panen raya hingga penguatan budi daya ikan bandeng selama beberapa waktu ke depan.

"Dua komoditas itu memang sangat berpengaruh mengingat menjadi yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat Sulsel. Namun strategi lain juga tetap perlu, seperti mendorong penerapan pertanian green house khususnya untuk produk hortikultura sampai realisasi kerja sama antar daerah (KAD)," ungkap Rizky, Selasa (4/6/2024).

KPwBI Sulsel juga merekomendasikan beberapa strategi terkait keterjangkauan harga dengan pembentukan neraca pangan di seluruh kabupaten/kota, melakukan Gerakan Pangan Murah (GPM), perluasan Mini Distribution Center (MDC) dan operasi pasar terstruktur, masif dan serentak.

"Strategi ini menjadi yang paling urgen bisa kita lakukan jika ketersediaan pasokan mulai menipis yang bisa membuat harga melambung. Tujuannya untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam jangka pendek," jelasnya.

Selain itu, Rezky juga menekankan perlunya kelancaran distribusi sepanjang tahun ini. Sinergi TPID dengan satgas pangan, termasuk pelabuhan untuk memonitor kelancaran distribusi komoditas strategis perlu dipertajam. Hal tersebut bisa sejalan dengan perluasan program Sipeppa (kerja sama distributor dengan asosiasi toko ritel/kelontong).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper