Bisnis.com, MAKASSAR - PT PLN (Persero) memastikan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) di Pulau Sulawesi akan bertambah sebesar 7,7 Gigawatt (GW), setidaknya dalam 10 tahun ke depan.
Beberapa yang telah direncanakan antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 4.606 Megawatt (MW), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 1.530 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sebesar 1.010 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 305 MW, dan pembangkit bioenergi sebesar 236 MW.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) Edyansyah mengatakan rencana tersebut telah tertuang pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Tujuan pembangunannya adalah untuk mendukung swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi, terutama di Sulawesi.
"RUPTL 2025–2034 disusun dengan fokus utama pada penyediaan energi yang andal, ramah lingkungan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah," ungkap Edyansyah melalui keterangan resmi, Jumat (29/8/2025).
Dia menambahkan pembangunan EBT di Sulawesi merupakan salah satu langkah transisi energi Indonesia menuju Net Zero Emissions.
Baca Juga
Perannya akan sangat besar dalam memperkuat keandalan listrik nasional sekaligus mendorong pemanfaatan energi lokal untuk mewujudkan swasembada.
Oleh sebab itu kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi krusial karena selain bisa mendukung kebutuhan rumah tangga, juga diproyeksi akan mendorong pertumbuhan investasi, industri, dan UMKM daerah.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Tenggara Andi Azis mengungkapkan pihaknya mendukung penuh implementasi RUPTL ini. Baginya listrik adalah kunci utama peningkatan daya saing daerah serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
"Kami mendorong sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk melistriki hingga ke pelosok dan memajukan industri, utamanya di Sultra," ujarnya.