Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lahan Smelter Nikel Kalla Disoal, Jusuf Kalla Buka Suara

Jusuf Kalla menegaskan telah melakukan pembelian tanah masyarakat yang akan dibangun pabrik sejak 2016 silam.
Jusuf Kalla saat meninjau  proyek pembangunan smelter PT Bumi Mineral Sulawesi di Kabupaten Luwu,Sulawesi Selatam,jumat (15/09/2023)./PT BMS
Jusuf Kalla saat meninjau  proyek pembangunan smelter PT Bumi Mineral Sulawesi di Kabupaten Luwu,Sulawesi Selatam,jumat (15/09/2023)./PT BMS

Bisnis.com, MAKASSAR - Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang juga pemilik smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) menegaskan jika pihaknya telah melakukan pembelian tanah masyarakat yang akan dibangun pabrik sejak 2016 silam.

Pernyataan ini menyusul adanya aksi demonstrasi oleh beberapa pihak yang mengatasnamakan kelompok Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) di Kabupaten Luwu, Sulsel, Jumat (15/9/2023).

JK sapaan akrabnya mengatakan jika PT BMS sama sekali tidak melakukan penggusuran kepada penduduk setempat terkait pembebasan lahan untuk pembangunan pabrik pemurnian ini.

“Ada demo seperti dari AMAN, itu lahan sudah dibeli pada 2016, atau tujuh tahun yang lalu, semua itu dibeli yang dari pemiliknya, dan yang demo itu ditanya mana surat-suratnya tidak ada. Kita beda dengan daerah lain yang rakyatnya digusur, itu kami beli,” jelasnya melalui keterangan pers, Jumat (15/9/2023).

Dia menambahkan, melalui pembangunan pabrik ini, pihaknya bahkan telah berkomitmen menggunakan100 persen tenaga kerja dalam negeri, dengan komposisi 70 persen tenaga kerja lokal dari Luwu raya dan 30 persen berasal dari daerah lain di Indonesia. 

Rencananya smelter yang dibangun di area 200 hektare tersebut akan menyerap ribuan tenaga kerja. Apalagi JK menjelaskan pada proses pengembangannya di area tersebut akan dibangun industri-industri lain berbasis nikel

“Insinyur insinyur ini semua anak-anak daerah, beda dengan di tempat lain, nanti selesai (pabriknya) baru kerja (warga lokal). Intinya kita berprinsip bagaimana memajukan daerah, di lokasi ini nantinya akan penuh dengan pabrik dan akan menyerap ribuan tenaga kerja," paparnya.

Smelter nikel yang berada di Desa Karang-karangan dan Desa Bukit Harapan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulsel ini direncanakan rampung dan mulai beroperasi memproduksi feronikel pada November 2023 dengan kapasitas produksi 33.000 ton nikel per tahun. 

Diperkirakan pembangunan pabrik ini akan selesai pada Juli 2024 dengan kapasitas produksi sebesar 31.400 ton nikel per tahun dengan menelan investasi sebesar Rp3,2 triliun.

Pabrik pemurnian ini menggunakan sumber energi baru terbarukan hydro power. Adapun pembangkit listrik yang memasok keperluan energi untuk PT BMS berasal dari PLTA Malea Tana Toraja yang juga milik Kalla group.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper