Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penduduk Miskin di Sulsel Rentan Dipengaruhi Pergerakan Harga 

Faktor yang berpengaruh terhadap meningkatnya penduduk miskin periode September 2021-Maret 2021 karena terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 2,42 persen.
Nugroho Nafika Kassa
Nugroho Nafika Kassa - Bisnis.com 17 Juli 2022  |  00:39 WIB
Penduduk Miskin di Sulsel Rentan Dipengaruhi Pergerakan Harga 
Pedagang cabai rawit melayani pembeli di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (4/7/2022). - Antara/Arnas Padda

Bisnis.com, MAKASSAR - Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Maret 2022 mencapai 777.440 orang atau sebesar 8,63 persen dari total penduduk setempat. Angka kemiskinan tersebut turun 7.540 orang atau 0,15 persen jika dibanding Maret 2021. Namun demikian, jumlah penduduk miskin per Maret itu naik 12.000 orang atau 0,01 persen jika dibanding September 2021.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel Suntono mengungkapkan, faktor yang menyebabkan penduduk miskin di Sulsel berkurang jika dibanding Maret 2021 karena ekonomi Sulsel pada triwulan I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 4,27 persen jika dibanding triwulan I-2021 (yoy).

Selain itu tingkat pengangguran terbuka Februari 2022 sebesar 5,75 persen, turun 0,04 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021. Demikian juga persentase pekerja setengah penganggur turun sebesar 1,14 persen poin dibandingkan Februari 2021.

Sementara faktor yang berpengaruh terhadap meningkatnya penduduk miskin periode September 2021-Maret 2021 karena terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 2,42 persen.

"Harga komoditi makanan naik sebesar 4,6 persen di periode Septermber 2021-Maret 2022," kata Suntono, Jumat (15/7/2022).

Apalagi ekonomi Sulsel pada triwulan I-2022 terhadap triwulan III-2021 mengalami kontraksi sebesar -5,77 persen (qtq). Tingkat inflasi sebesar 2,49 persen dari tahun ke tahun, dari Maret 2022 terhadap Maret 2021 juga dianggap sebagai faktor utama.

Perkembangan indikator makro selama September 2021 dibandingkan dengan Maret 2022 juga menunjukkan penurunan dengan pola musiman.

"Indikator makro mengarah pada penurunan kesejahteraan petani umumnya di perdesaan yaitu menurunnya produksi padi dan naiknya nilai tukar petani (NTP) yang mencerminkan daya beli petani yang menurun," ungkapnya.

Suntono menambahkan berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2021-Maret 2022 jumlah penduduk miskin perkotaan naik dari 4,89 persen ke 5,07 persen atau sebesar 9.700 orang. Sementara di perdesaan naik dari 11,55 persen menjadi 11,63 persen atau sebesar 2.300 orang.

Dibanding September 2021, jumlah penduduk miskin Maret 2022 perkotaan naik sebanyak 9.700 orang. Penduduk miskin perkotaan naik dari 198.840 orang pada September 2021 menjadi 208.530 orang pada Maret 2022.

Pada periode yang sama jumlah penduduk miskin perdesaan naik sebanyak 2.300 orang. Jumlahnya dari 566.620 orang pada September 2021 menjadi 568.910 orang pada Maret 2022.

Sementara Garis Kemiskinan (GK) Sulsel pada Maret 2022 sebesar Rp399.755 per kapita per bulan. Dibandingkan September 2021, GK naik sebesar 3,98 persen. Sementara jika dibandingkan Maret 2021, terjadi kenaikan sebesar 7,32 persen.

Peranan komoditi makanan di Sulsel ternyata masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) terhadap GK pada Maret 2022 sebesar 74,90 persen. Pada Maret 2022, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.

Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 19,63 persen di perkotaan dan 25,68 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (11,24 persen di perkotaan dan 13,14 persen di perdesaan).

Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (3,93 persen di perkotaan dan 3,97 persen di perdesaan), bandeng (2,99 persen di perkotaan dan 3,48 persen di perdesaan), tongkol/tuna/cakalang (2,70 persen di perkotaan dan 2,53 di perdesaan), dan mi instan (2,54 persen di perkotaan dan 2,28 di perdesaan).

"Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, pakaian jadi perempuan dewasa, serta perawatan kulit, muka, kuku dan rambut," jelas Suntono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemiskinan sulsel
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top