Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Masukan BI Agar Dunia Usaha di Sulteng Bertahan di Tengah Pandemi

Diperlukan strategi khusus agar dunia usaha di Sulteng dapat bertahan di masa pandemi Covid-19.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 November 2020  |  09:49 WIB
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi. / Antara
Pandemi Covid/19 berhasil mempercepat transformasi bisnis serta aktivitas jual beli dari tradisional menjadi daring atau online lewat prinsip digitalisasi. / Antara

Bisnis.com, PALU - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Abdul Majid Ikram menyatakan diperlukan strategi khusus agar dunia usaha di Sulteng dapat bertahan di masa pandemi Covid-19.

Abdul Majid mengatakan strategi tersebut adalah adjustment, accelerative, dan agile atau ketangkasan (3A).

"Yang pertama usaha atau bisnis harus mampu melakukan adjustment atau pengaturan. Kita sebaiknya tidak lagi berharap untuk back to the past (kembali ke masa lalu), dimana kita bisa menjalankan bisnis dengan metode seperti sedia kala," katanya, dikutip dari Antara, Kamis (26/11/2020).

Lanjutnya, dunia usaha harus bersiap untuk menyambut masa depan yaitu menjalankan bisnis dengan mengikuti kenormalan baru yang mengedepankan pemanfaatan teknologi digital.

Kedua, usaha harus lebih akseleratif dalam berinovasi baru untuk terus tumbuh. Inovasi yang dilakukan dapat menyesuaikan produk yang dibutuhkan di era kenormalan baru.

"Seperti produk makanan kemasan yang tahan lama dan terjamin higienitasnya. Contohnya di beberapa daerah telah dikembangkan gudeg, empal gentong dan rendang dalam kemasan kaleng yang dapat bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama,"ujarnya.

Ketiga,kata Majid, pelaku usaha maupun pelaku bisnis harus agile atau tangkas. Mereka harus mampu memanfaatkan peluang baru yang didapat dari kemajuan teknologi.

"Pemanfaatan teknologi digital secara optimal merupakan salah satu kunci. Sebagai contoh, jejak digital (digital footprint) dari operasional dan transaksi bisnis dapat menjadi 'aset tak berwujud'," terangnya.

Track record atau rekam jejak tersebut, menurutnya, merupakan komponen utama dalam proses penilaian kredit ketika mengakses pembiayaan.

Disamping itu, data dan informasi dari jejak digital dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi pemasaran dan pengembangan produk.

Majid yakin jika tiga cara itu diterapkan, usaha atau bisnis yang digeluti dapat tetap bertahan bahkan berkembang di tengah pandemi Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulteng

Sumber : Antara

Editor : Amri Nur Rahmat
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top