Masih Tinggal di Tenda, Sejumlah Korban Gempa Palu Khawatirkan Corona

Warga korban gempa Palu mengkhawatirkan wabah Corona yang terjadi di Indonesia. Mereka berharap tempat tinggal sementara mereka itu juga disemprot disinfektan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  11:35 WIB
Masih Tinggal di Tenda, Sejumlah Korban Gempa Palu Khawatirkan Corona
Ilustrasi-Petugas Kesehatan memeriksa suhu tubuh rombongan siswa penumpang angkutan darat saat transit di Terminal Mamboro, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (24/3/2020). Pemerintah Sulawesi Tengah memperketat pintu keluar dan masuk daerah tersebut dengan memeriksa kesehatan setiap warga yang melintas guna mengantisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19). - ANTARA/Mohamad Hamzah

Bisnis.com, PALU - Warga korban gempa Palu mengkhawatirkan wabah Corona yang terjadi di Indonesia. Mereka berharap tempat tinggal sementara mereka itu juga disemprot disinfektan. 

Gempa berkekuatan 7,4 SR d Palu terjadi hampir dua tahun lalu. Namun, warga korban gempa bumi tersebut dilaporkan masih ada yang tinggal di dalam tenda-tenda darurat.

Di sisi lain, pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan peduli bencana alam telah membangun hunian sementara dan hunian tetap.

"Kami masih bertahan di tenda darurat, sebab tidak mendapatkan hunian sementara (huntara)," kata seorang warga korban gempa di kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Bahtiar, Kamis (26/3/2020) kepada Antara.  .

Ia mengatakan meski tinggal di tenda darurat, mereka cukup bahagia karena masih ada warga lain yang tetap membawakan bantuan bahan makanan dan lainnya.

Sekarang, sejak wabah virus Corona melanda Indonesia, ia merasa waswas. Kekhawatiran mengganggu pikirannya meski di Sulteng, termasuk Kota Palu, belum ada warga yang dilaporkan positif terinfeksi virus Corona penyebab COVID-19.

"Terus terang hari-hari ini kami terus dihantui virus Corona," katanya.

Ia pun meminta pemerintah atau instansi berwenang melakukan penyemprotan di tenda-tenda darurat yang menjadi tempat tinggal sementara para pengungsi korban gempa di Palu yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.

"Kami berharap tempat kami juga disemprot desinfektan guna mencegah virus tersebut," pinta Bahtiar.

Hal senada diungkapkan Jaka, salah seorang pengungsi di Desa Wombo Kalonga, Kecamatan Palu Utara. Ia mengatakan mereka sangat berharap penyemprotan dilakukan di seluruh permukiman warga, termasuk warga yang masih berada di tenda-tenda darurat.

Di desanya, kata dia, masih ada sejumlah warga yang tinggal di tenda darurat karena tidak mendapatkan huntara. Rumah mereka sebelumnya rusak akibat diterjang gempa bumi beberapa tahun lalu.

Dia juga meminta pihak terkait untuk melakukan penyemprotan agar warga terhindar dari penularan virus Corona.

Mereka juga mendukung penuh kebijakan Pemkot Palu dan Pemprov Sulteng yang memperketat pintu masuk melalui jalur darat di Terminal Induk Mamboro guna mengantisipasi Covid-19.

"Kami sangat mendukungnya dan seharusnya semua pihak ikut mendukung langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah di daerah ini terkait upaya pencegahan virus Corona," katanya.

Pemerintah daerah memperketat penjagaan pintu masuk di Terminal Mamboro Palu dan setiap penumpang yang turun dari bus-bus angkutan kota dalam provinsi dan angkutan kota antarporovinsi harus menjalani pemeriksaan oleh petugas dinas kesehatan.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa di Palu, Sulawesi Tengah pada 2018 berpusat di sekitar Donggala, Sigi dan Palu.

Kedalaman gempa berada pada kisaran 10 km dengan kekuatan gempa berkisar pada angka 5,0 hingga 7,7 Skala Richter.

Gempa terkuat berada di angka 7,7 SR pada Jumat (28/9/2018) pukul 17:02:44 WIB berlokasi di 27 km Timur Laut Donggala, Sulawesi Tengah.

Gempa lain yang berkekuatan di atas 7 SR yakni sebesar 7,4 SR terjadi pada pukul 17:02:45 WIB berlokasi di 25 km TimurLaut Donggala, Sulawesi Tengah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gempa Palu

Editor : Saeno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top