Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PHRI Sulsel: Okupansi Hotel Menurun Hingga 20 Persen

Bahkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel mencatat adanya penurunan okupansi hingga 20 persen.
Industri perhotelan di Makassar mulai meningkatkan kewaspadaan dengan menyediakan hand sanitizer dan pemeriksaan suhu tubuh pengunjung, menyusul semakin masifnya penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia/Andini Ristyaningrum
Industri perhotelan di Makassar mulai meningkatkan kewaspadaan dengan menyediakan hand sanitizer dan pemeriksaan suhu tubuh pengunjung, menyusul semakin masifnya penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia/Andini Ristyaningrum

Bisnis.com, MAKASSAR - Merebaknya wabah virus Corona atau Covid-19 memberi dampak pada semua sektor, termasuk bagi industri perhotelan. Pengaruh itu juga dirasakan oleh para pelaku industri perhotelan di Sulsel. Bahkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel mencatat adanya penurunan hingga 20 persen.

Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga menyatakan penurunan itu berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga awal Maret. Sedikitnya, ada 355 hotel yang merasakan dampak tersebut, mulai dari hotel berbintang hingga non berbintang.

"Di periode yang sama tahun sebelumnya, tingkat hunian rata-rata di Makassar yaitu 40-43 persen," kata Anggiat, Senin (16/3/2020).

Menurut Anggiat, penyebaran pandemi Covid-19 yang semakin masif membuat industri perhotelan di Makassar kian lesu. Beberapa reservasi yang rencananya bakal dilakukan bahkan dibatalkan dengan alasan tidak jadi menggelar kegiatan.

Apalagi, berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan hingga hari ini jumlah pasien positif Corona terus bertambah mencapai 117 orang. Selain itu, pada 2020 ini Sulsel tidak menjadi salah satu daerah prioritas pemerintah, yang mana kata Anggiat kegiatan kementerian bakal diarahkan ke beberapa daerah seperti Bali, Manado, Labuan Bajo, dan Danau Toba.

"Dua faktor itu yang membuat kondisi industri perhotelan di Sulsel ke depan makin susah," keluh Anggiat.

Padahal sejauh ini kata Anggiat, okupansi perhotelan juga dipengaruhi dari MICE atau meeting, incentive, convention, and exhibition. Di mana kegiatan pemerintah atau kementerian yang berpusat di hotel berkontribusi sebesar 40-45 persen.

Anggiat juga mengatakan, untuk bisa menambah pendapatan manajemen hotel harus bisa melakukan penetrasi dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan lokal atau sosial seperti menyediakan paket ulang tahun dan paket arisan. Kendati pasar tersebut tidak berkontribusi besar terhadap okupansi hotel

"Manajemen hotel memang diminta untuk lebih kreatif," tutur Anggiat.

Sementara, sebagai langkah antisipasi pencegahan dan penyebaran wabah Covid-19, manajemen hotel diminta untuk meningkatkan kebersihan di lingkungan hotel. Misalnya, menyediakan hand sanitizer di setiap pintu masuk dan beberapaspot hotel, serta menyiapkan alat pengecekan suhu badan bagi semua tamu yang akan masuk di hotel.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper