Ekonomi Sulut Melambat, BI Dorong Cari Sumber Pertumbuhan Baru

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tercatat sebesar 5,2 persen pada kuartal III/2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 06 November 2019  |  14:17 WIB
Ekonomi Sulut Melambat, BI Dorong Cari Sumber Pertumbuhan Baru
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat dalam acara Temu Responden 2019 di Hotel Four Points, Kota Manado, Sulawesi Utara, Rabu (6/11/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, MANADO — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara mendorong agar Bumi Nyiur Melambai mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah melambatnya pertumbuhan hingga kuartal III/2019.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat menjelaskan perkembangan ekonomi provinsi itu masih tumbuh positif hingga kuartal III/2019. Pencapaian itu dihasilkan di tengah kondisi perekonomian global yang kurang kondusif.

Kendati demikian, realisasinya lebih rendah dari capaian sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut sebesar 5,2 persen pada kuartal III/2019.

Pada 2018, lanjut dia, ekonomi Sulut mampu tumbuh 6,01 persen atau berada di atas nasional, yang sebesar 5,05 persen. Dengan realisasi per kuartal III/2019, pihaknya menilai terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.

“Pada kuartal I/2019, masih naik jadi 6,48 persen, kemudian pada kuartal II/2019 turun jadi 5,4 persen, begitu juga kuartal III/2019,” papar Arbonas di sela-sela “Temu Responden 2019 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut” di Kota Manado, Rabu (6/11/2019).

Dia menjelaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dampak kondisi perekonomian global. Perang dagang antara China dan Amerika Serikat disebut menurunkan volume perdagangan dunia.

“Wajar ekspor kita juga terpengaruh. Ekspor Sulut turun salah satunya karena harga kopra,” jelas Arbonas.

BI Sulut menyatakan mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif di Sulut bukanlah pekerjaan mudah, apalagi di tengah tantangan global. Sulut pun perlu mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk menutupi penurunan ekspor, salah satunya lewat pengembangan pariwisata.

Pengembangan sektor pariwisata perlu dilakukan secara menyeluruh. Sebagai gambaran, bagaimana turis yang datang mempunyai waktu tinggal yang lama dan spending atau belanja yang besar sehingga mampu mendorong sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pengembangan pariwisata diyakini bakal mendorong okupansi atau tingkat penghunian kamar hotel menjadi 90 persen. Dari situ, akan banyak tenaga kerja terserap termasuk makanan dan minuman.

“Sayuran dan hasil produksi akhirnya dijual ke hotel. Itulah konsepsi pertumbuhan menyeluruh,” imbuh Arbonas.

Dengan pengembangan pariwisata, sektor lainnya pun bakal bergerak, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga UMKM.

Berdasarkan data BPS Sulut, dari sisi produksi, realisasi pertumbuhan ekonomi provinsi ini ditopang oleh sebagian besar lapangan usaha. Namun, pertumbuhan tertinggi dicapai sektor jasa lainnya, yang sebesar 20,66 persen.

BPS Sulut menyebut pertumbuhan jasa lainnya didorong oleh peningkatan pendapatan jasa hiburan. Hal itu sejalan dengan penyelenggaraan sejumlah agenda nasional maupun internasional di Bumi Nyiur Melambai.

Sayangnya, sektor jasa lainnya hanya berkontribusi 2,03 persen terhadap total Produk Domestik Bruto Regional (PDRB) Sulut pada kuartal III/2019. Tiga kontributor terbesar untuk pertumbuhan ekonomi adalah pertanian dengan 20,51 persen, perdagangan 12,65 persen, dan konstruksi 12,05 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, sulut

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top