Gara-Gara Tomat, Inflasi Sulut Oktober 2019 Tertinggi di Indonesia

Tingkat inflasi Provinsi Sulawesi Utara yang diwakili oleh Kota Manado menjadi yang tertinggi di Indonesia pada Oktober 2019 akibat kenaikan harga tomat.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 01 November 2019  |  17:25 WIB
Gara-Gara Tomat, Inflasi Sulut Oktober 2019 Tertinggi di Indonesia
Tomat - Antara/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, MANADO — Tingkat inflasi Provinsi Sulawesi Utara yang diwakili oleh Kota Manado menjadi yang tertinggi di Indonesia pada Oktober 2019 akibat kenaikan harga tomat.

Kepala Badan Pusat Satistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Ateng Hartono mengungkapkan inflasi Bumi Nyiur Melambai yang diwakili Kota Manado sebesar 1,22 persen pada Oktober 2019. Posisi itu lebih tinggi dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,02 persen.

“Inflasi tersebut tertinggi di nasional,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (1/11/2019).

Ateng menjelaskan bahwa inflasi Manado sebesar 2,13 persen berdasarkan tahun kalender. Nilai itu lebih dari nasional sebesar 2,22 persen. Adapun, untuk inflasi Manado tercatat sebesar 4,81 persen secara year on year (yoy).

Lebih lanjut, Ateng memaparkan tomat dan cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi Manado pada Oktober 2019. Dua komoditas itu berkontribusi masing-masing 0,875 persen dan 0,4278 persen.

“Sedangkan berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi tertinggi pada bahan makanan sebesar 5,13 persen,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menyatakan bahwa pergerakan harga tomat sayur harus tetap diwaspadai dan menjadi perhatian oleh seluruh pihak terkait terutama memasuki periode permintaan tinggi pada akhir tahun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat menjelaskan bahwa harga tomat sayur sempat mengalami deflasi selamat tiga bulan berturut-turut pada Februari 2019–April 2019. Kondisi itu kembali berulang untuk periode Juli 2019–September 2019.

Dengan mengacu perkembangan harga Mei 2019 dan Juni 2019, lanjut dia, dapat terlihat adanya potensi pembalikan harga atau price reversal tomat sayur pada Oktober 2019 hingga Desember 2019. Pasalnya, permintaan komoditas itu terbilang tinggi untuk periode tersebut.

Arbonas mengatakan potensi price reversal juga terlihat dari pantauan di lapangan. Pihaknya menyebut insentif petani untuk memanen tomat berkurang karena harga tomat sayur sudah mencapai titik terendahnya.

“Mempertimbangkan potensi risiko tersebut, pergerakan harga tomat sayur harus tetap diwaspadai dan menjadi perhatian oleh seluruh instansi/lembaga/dinas terkait terutama memasuki periode permintaan tinggi pada akhir tahun,” ujarnya.

Dia menekankan perlu dirumuskan langkah dan strategi yang tepat untuk mengantisipasi inflasi dari pergerakan harga tomat sayur. Hal itu khususnya dalam menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi.

“Demi mendukung keterjangkauan harga di tengah potensi permintaan tinggi pada Kuartal IV/2019,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, sulut

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top