2020, Sulawesi Utara Incar Pertumbuhan Ekonomi 6,3 Persen

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengincar pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen pada 2020. Optimisme tersebut muncul seiring pembangunan infrastruktur yang mulai rampung pada tahun ini.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 05 September 2019  |  16:59 WIB
2020, Sulawesi Utara Incar Pertumbuhan Ekonomi 6,3 Persen
Suasana jalan tol Manado-Bitung dengan latar belakang Gunung Klabat (gunung tertinggi di Sulawesi Utara), Jumat (5/7/2019). - Bisnis/Lukas Hendra

Bisnis.com, JAKARTA--Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengincar pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen pada 2020. Optimisme tersebut muncul seiring pembangunan infrastruktur yang mulai rampung pada tahun ini.

Olly mengungkapkan telah ada beberapa proyek strategis nasional (PSN) yang rampung dan bakal diresmikan akhir 2019. Selesainya PSN menjadi pendongkrak ekonomi domestik di Sulawesi Utara.

Dia mengungkapkan, beberapa proyek strategis nasional yang ada di Sulut yang belum diresmikan yaitu Bendungan Kuwil, Bendungan Lolak, jalan tol Manado-Bitung serta Pelabuhan Bitung. Untuk pembangunan jalan tol Manado-Bitung sepanjang 39,9 km, membutuhkan investasi senilai Rp5,12 triliun.

"Target pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6,3 persen. Melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun ini juga pertumbuhan ekonomi Sulut bagus," ungkap Olly, Kamis (5/9/2019).

Jalan tol sepanjang 39 km menghubungkan dua kota terbesar di Sulawesi Utara, yakni Manado dan Bitung. Proyek ini dibagi menjadi dua tahap yakni seksi pertama Manado–Airmadidi dan seksi kedua Airmadidi – Bitung.

Proyek ini diharapkan mendukung peningkatan lalu lintas pada rute Manado–Bitung, mendukung sektor wisata serta pertumbuhan ekonomi di Manado, Minahasa Utara dan Bitung. Jalan tol ini juga akan menjadi jalan akses utama ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan Pelabuhan Hub Internasional Bitung yang akan dibangun.

Dalam catatan Bisnis, Sulawesi Utara mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,48 persen pada kuartal II/2019, melambat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar 5,83 persen.

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut juga tercatat melambat dibandingkan kuartal I/2019 yang mencapai 6,58 persen. Perlambatan pertumbuhan dibandingkan kuartal I merupakan pola yang sudah terjadi sejak 2016.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono menjelaskan  berdasarkan harga berlaku PDRB Sulut pada kuartal II/2019 mencapai Rp31,37 triliun. Adapun, berdasarkan harga konstan 2010, PDRB Sulut tercatat sebesar Rp21,53 triliun.

Dia menjelaskan, pertumbuhan PDRB itu didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 11,48 persen.

Berdasarkan sumber pertumbuhannya, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih tercatat sebagai sumber pertumbuhan terbesar yakni 1,43 persen. Sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor juga tercatat memiliki sumber pertumbuhan besar, yakni 1,18 persen.

Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sulut tercatat sebesar 5,03 persen. Ateng menjelaskan, pertumbuhan ini bersifat musiman, didorong oleh peningkatan faktor pengeluaran menjelang hari raya Idulfitri. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manado, sulut

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top