Potensi Ekonomi 'Pohon Dolar' dari Talaud

Abaka, atau musa textilis merupakan tanaman endemik yang tumbuh liar di Talaud. Bentuknya menyerupai pohon pisang, namun buahnya sangat kecil. Keajaibannya terletak pada serat dari pelepahnya yang sangat kuat.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  08:37 WIB
Potensi Ekonomi 'Pohon Dolar' dari Talaud
Serat abaka dari pulau Talaud Sulawesi Utara - Bank Indonesia

Lupakan sejenak persoalan politik atau kasus korupsi yang terjadi di lingkaran kepala daerah Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Mari tengok potensi hasil bumi yang tengah dikembangkan di sana: serat abaka.

Abaka, atau musa textilis merupakan tanaman endemik yang tumbuh liar di Talaud. Bentuknya menyerupai pohon pisang, namun buahnya sangat kecil. Keajaibannya terletak pada serat dari pelepahnya yang sangat kuat.

Kekuatan serat abaka membuatnya bahan baku untuk pembuatan tali tambang kapal. Serat abaka yang juga sering disebut Pohon Manila ini juga menjadi bahan baku untuk percetakan sejumlah mata uang luar negeri seperti Yen Jepang dan Dolar Amerika Serikat.

Kendati demikian, pohon abaka dibiarkan tumbuh liar di Talaud. Masyarakat tidak memanfaatkannya untuk waktu yang cukup lama. Padahal, dulunya abaka digunakan sebagai bahan baku pembuatan busana tradisional dan jaring ikan.

“Dulunya itu ya kira-kira kan berapa ratus tahun lalu itu digunakan untuk baju orang-orang dulu, ada lagi untuk jaring ikan. Dengan perkembangan teknologi ini, kalah sama produksi plastik kan, akhirnya hilang lagi,” kata Jufri Amiman, salah seorang penyerat di Desa Essang, Pulau Karakelang, Talaud, awal bulan ini.

Jufri dan warga lainnya baru mulai serius menanam abaka sejak mendapatkan pelatihan dari sebuah perusahaan swasta pada 2010. Mereka mulai mengetahui bahwa permintaan terhadap serat abaka cukup tinggi baik untuk kebutuhan ekspor maupun produksi dalam negeri.

Produksi serat abaka di Desa Essang, Pulau Karakelang, Talaud Sulawesi Utara/Bisnis-Ilman A. Sudarwan

Di sisi lain, masyarakat juga baru menyadari bahwa abaka dari Talaud memiliki kualitas yang cukup baik. Dia mengatakan, dibandingkan dengan serat abaka dari Ekuador dan Filipina, hasil produksi Talaud lebih panjang dan lebih halus.

Jufri kini menjadi Ketua Kelompok Penyerat Lanciang Xote dan mengoperasikan tiga mesin penyerat abaka. Dalam sehari, kelompoknya bisa memproduksi sekitar 60 kg serat abaka. Sehingga dalam sebulan Lanciang Xote bisa menghasilkan sekitar 12 ton serat abaka.

“Kami berterima kasih atas bantuan dari Bank Indonesia Sulawesi Utara, kami menerima bantuan mesin yang membuat produksi kami meningkat, dari dulunya 30 kilo sehari sekarang bisa 60 kilo. Kami juga sudah dapat pasar yang bagus untuk memasarkan produk ini,” jelasnya.

Kehadiran serat abaka menjadi penolong bagi Jufri dan kawan-kawannya yang dahulu merupakan petani kopra. Di saat harga kopra turun, abaka menjadi peluang baru karena menawarkan harga jual yang jauh lebih tinggi.

“Jangankan dibandingkan saat harga kopra turun seperti sekarang, dibandingkan saat harganya masih bagus hampir Rp10.000/kg juga masih lebih bagus harga abaka, mitra kami dari Palembang berani bayar sekitar Rp26.000/kg,” katanya.

Pelepah pisang sebagai bahan baku serat abaka/Bank Indonesia

Namun, demikian dia mengatakan bahwa persoalan saat ini adalah keterbatasan alat produksi yang masih berpusat di satu tempat saja. Padahal, pohon abaka tersebar di sejumlah wilayah berbeda. Tidak adanya infrastruktur jalan dinilai menjadi penghambat.

Pengiriman batang pohon itu dilakukan dengan memanfaatkan aliran sungai. Namun, karena sifatnya menyerap air ketika sampai di tempat penyeratan, tak banyak petani yang mampu menggotongnya. Beratnya bisa menjadi 100 kg karena menyerap air sungai.

“Kalau ditambah dengan lahan di daerah lain, total lahan yang ada di Essang ini bahkan mencapai 400 hektare, tapi terkendala di pengirimannya tadi. Mesinnya tidak bisa berpindah ke tempat petani, membawa abaka juga masalah karena infrastrukturnya belum memadai,” ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat (kiri) saat berada di lokasi produksi serat abaka di Talaud/Bisnis-Ilman A. Sudarwan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan, abaka memiliki potensi yang tinggi jika dikelola dengan baik. Dia mengharapkan bantuan mesin penyerat yang diberikan dapat membantu meningkatkan produktivitas para petani.

“Kalau dibina, abaka akan meningkatkan kapasitas ekonomi daerah. Peningkatan produktivitas dan daya saing diharapkan dapat membuat abaka Talaud mampu menembus pasar domestik dan internasional,” ujarnya.

Tak hanya memberikan bantuan mesin penyerat, Bank Indonesia juga memberikan bantuan alat tenun bukan mesin kepada para pengrajin di Makatara. Bantuan ini diharapkan dapat membantu masyarakat memaksimalkan potensi penambahan nilai dengan memproduksi berbagai macam kerajinan dari serat abaka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, sulut, kepulauan talaud

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top