Sulteng Genjot Produksi Udang Skala Rakyat

Oleh: Newswire 31 Mei 2018 | 21:43 WIB
Sulteng Genjot Produksi Udang Skala Rakyat
Petambak memperlihatkan udang lobster hasil budi daya di keramba apung./Antara-Ampelsa

Bisnis.com, PALU – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah mulai 2019 akan mengucurkan dana untuk membangun tambak percontohan sistem budidaya udang supra intensif skala rakyat di sejumlah kabupaten.

"Target awal kita akan menjangkau lima kabupaten, setiap kabupaten akan menerima alokasi sekitar Rp100 juta," kata Kepala Dinas KP Sulteng Hasanuddin Atjo yang dihubungi di Palu, Kamis (31/5/2018).

Rencana pengucuran dana APBD untuk mereplikasi tambak udang supra intensif skala rakyat itu merupakan instruksi Gubernur Longki Djanggola saat menghadiri panen perdana sistem budi daya udang supra intensif skala kecil di Balai Benih Perikanan DKP Sulteng di Kelurahan Mamboro, Palu, pada 15 Mei 2018.

"Saya minta semua kepala daerah membuat proyek-proyek percontohan implementasi teknologi ini di daerah masing-masing untuk menjadi percontohan bagi masyarakat," kata Gubernur saat itu.

Dengan dana Rp100 juta itu, kata Atjo, bisa dibangun enam tambak udang dan ini sudah cukup memadai sebagai percontohan sehingga lewat proyek percontohan tersebut, petani bisa mereplikasi sistem ini di lokasi masing-masing secara mandiri.

"Masyarakat kita ini kan masih tipe pencontoh, jadi kalau tidak ada tambak percontohan yang mereka lihat langsung, sulit mereka (petani skala kecil) untuk menerima inovasi-inovasi baru seperti ini," ujarnya.

Saat panen perdana sistem budidaya udang supra intensif hasil rekayasa teknologi yang dilakukan Dr Hasanuddin Atjo, MP itu, hasil yang dicapai adalah 700 kg udang dari dua tambak percontohan yang menggunakan terpal plastik.

Dengan keberhasilan percontohan tersebut, kata Atjo, teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia yang diluncurkan sejak 2013, kini tidak hanya bisa direplikasi pengusaha bermodal besar, tetapi juga petambak skala usaha kecil dan menengah (UKM).

"Ini adalah hasil rekayasa konstruksi dari beton menjadi plastik sehingga biaya investasinya bisa ditekan, tetapi produktivitasnya tetap tinggi," katanya.

Kedua tambak tersebut dalam satu siklus panen membutuhkan biaya operasional Rp19,5 juta dan mampu menghasilkan 700 kg udang per dua tambak. Bila harga udang rata-rata Rp70.000 per kg, maka sekali panen, pemilik tambak bisa meraup sekitar Rp49 juta. Dalam setahun panen bisa berlangsung tiga kali bila dikelola secara efektif.

Kalau seorang petambak bisa mengembangkan enam kolam saja, biaya konstruksinya tidak akan mencapai Rp100 juta, tetapi hasil yang diperoleh akan berlipat ganda.

"Saya ingin mengembangkan teknologi supra intensif skala rakyat ini karena terbukti signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani tambak. Kalau ini berhasil, kita berharap Sulteng akan menjadi daerah penghasil udang vaname cukup besar di Indonesia dalam beberapa thaun mendatang," ujar Gubernur Longki Djanggola.

Sumber : Antara

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer