Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Makassar Mulai Pasang Panel Surya di 250 Sekolah

Pemasangan panel surya untuk mengurangi emisi sekaligus menghindarkan dari risiko pemadaman bergilir.
PLTS atap terpasang di sebuah gedung di Denpasar, Bali./Bisnis-Feri Kristianto
PLTS atap terpasang di sebuah gedung di Denpasar, Bali./Bisnis-Feri Kristianto

Bisnis.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) melanjutkan komitmen mewujudkan low carbon city atau kota rendah emisi karbon dengan segera memasang panel surya di 250 sekolah SD hingga SMP.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan dirinya bersama Dinas Pendidikan Kota Makassar telah menentukan 250 sekolah yang akan dipasangi panel surya tahun ini. Saat ini mereka akan melakukan pelatihan penggunaannya terlebih dahulu, sebelum komponen pembangkit listrik tersebut resmi dipasang.

Dia menjelaskan, pemasangan panel surya dilakukan demi mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan listrik selama ini. Selain itu, upaya tersebut juga dianggap bisa mengurangi risiko pemadaman listrik yang terjadi di Sulsel saat musim kemarau.

Berkaca pada tahun lalu, Sulsel sempat dilanda defisit energi saat musim kemarau akibat menurunnya kemampuan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) hingga 75%. Pasalnya saat ini sebesar 33% pembangkit listrik di sistem kelistrikan Sulawesi bagian Selatan berasal dari PLTA.

"Apalagi sekolah kita punya smartboard fasilitas smartclass, kalau tekanan listriknya naik-turun maka akan sangat merugikan. Maka kami putuskan walaupun belum semua sekolah, tapi 250 sekolah SD-SMP kita akan ganti dengan energi matahari," ujar Danny Pomanto, sapaan Wali Kota Makassar kepada wartawan, Senin (10/6/2024).

Dia menambahkan, beroperasinya panel surya diproyeksi pula akan menghemat penggunaan listrik di pemerintahannya. Secara teknis, listrik dari matahari akan dipakai secara penuh di sekolah saat siang hari, sementara jika ada kelebihan daya, maka penggunaan malam hari akan difungsikan untuk menyalakan lampu jalan.

"Makanya sistem pemeliharaan, pengelolaan harus betul-betul menjadi keseharian kita yang baru. Ini adalah sebuah cara baru, kita ingin kota kita low carbon, kita ingin kota kita berdaya tahan. Karena ini adalah cara baru makanya kita harus beradaptasi," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper