Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rempah Sulsel Diekspor ke Asia hingga Eropa

Sampai hari ini, Pemerintah Provinsi Sulsel tetap berkomitmen untuk menjaga, mengembangkan, dan mendorong perdagangan rempah-rempah.
Nugroho Nafika Kassa
Nugroho Nafika Kassa - Bisnis.com 06 Juni 2022  |  21:31 WIB
Peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah menaiki KRI Dewaruci di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Senin (6/6/2022). - Ist
Peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah menaiki KRI Dewaruci di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Senin (6/6/2022). - Ist

Bisnis.com, MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus mendorong perdagangan rempah dari wilayahnya. Terbukti di 2021 lalu, Sulsel berhasilnya mengekspor rempah-rempah senilai kurang lebih Rp54 miliar.

Rempah-rempah tersebut dikirim ke beberapa negara Asia dan Eropa. Antara lain kemiri, cengkeh dan kayu manis.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Muhammad Jufri saat memperkenalkan potensi Sulsel pada Muhibah Budaya Jalur Rempah Kemendikbudristek 2022 di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Senin (6/6/2022).

Jufri menjelaskan jika Makassar secara historis menjadi salah satu poros perdagangan rempah dunia di masa lampau. Sehingga pemerintah pun terus berkomitmen untuk menjaga, mengembangkan, dan mendorong perdagangan rempah-rempah hingga saat ini.

"Sampai hari ini, Pemerintah Provinsi Sulsel tetap berkomitmen untuk menjaga, mengembangkan, dan mendorong perdagangan rempah-rempah. Salah satu buktinya dengan mengembangkan potensi perdagangan rempah setiap tahun," ungkapnya.

Dia pun berharap, dengan adanya pogram Muhibah Budaya Jalur Rempah mampu memberikan edukasi kepada generasi muda agar tidak melupakan nilai kesejarahan yang terkait jalur rempah.

"Diharapkan aspek kebudayaan Jalur Rempah ini tidak hilang begitu saja, tetapi bisa dikenang, yang memang sampai hari ini menjadi pelajaran di sejarah bahwa Jalur Rempah ini adalah sesuatu yang pernah sangat jaya di masanya," ungkap Jufri.

Muhibah Budaya Jalur Rempah sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Pemerintah Daerah, serta berbagai komunitas budaya.

Kegiatan ini menyusuri enam titik Jalur Rempah, yakni Surabaya, Makassar, Bau-bau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Neira, dan Kupang.

Hal ini merupakan salah satu upaya diplomasi budaya yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia, serta upaya untuk melibatkan generasi muda untuk mengenal narasi sejarah peradaban rempah dari geladak kapal Indonesia sendiri.

Kemendikbudristek juga tengah mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia tak benda ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Sjamsul Hadi mengatakan pengusulan ini sudah dilakukan sejak 2017 dan didasari oleh pemahaman bahwa Jalur Rempah adalah jalur pertukaran antarbudaya dan pertukaran pengetahuan.

"Oleh karena itu, melalui program ini kami harapkan dukungan dari provinsi dan kabupaten kota, sebab Kemendikbud akan mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan dunia ke UNESCO," ungkap Sjamsul.

Dengan fokus warisan budaya tak benda, lanjut dia, program Jalur Rempah bergerak lebih terarah untuk merevitalisasi Jalur Rempah. Dengan cara ini, diharapkan spirit Jalur Rempah menjadi nilai dan gaya hidup masyarakat, mulai pendidikan, kesehatan, ekonomi, sastra, seni dan lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulsel rempah jalur rempah
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top