Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cabai Rawit Dorong Deflasi di Manado dan Kotamobagu

Provinsi Sulawesi Utara yang diwakili oleh Kota Manado dan Kota Kotamobagu pada Mei 2020, tercatat mengalami deflasi yang didorong oleh cabai rawit.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  20:09 WIB
Pedagang menata beras di Pasar Tradisional Pinasungkulan, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Adwit B Pramono
Pedagang menata beras di Pasar Tradisional Pinasungkulan, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Adwit B Pramono
Bisnis.com, MANADO -- Kota Manado dan Kota Kotamobagu pada Mei 2020 tercatat mengalami deflasi yang didorong oleh cabai rawit.  
 
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) Ateng Hartono menyebutkan bahwa pada Mei 2020, Kota Manado mengalami deflasi sebesar 0,01 persen, sedangkan Kota Kotamobagu mengalami deflasi yang lebih tinggi sebesar 0,27 persen.  
 
Secara perhitungan tahun kalender Kota Manado juga mengalami deflasi sebesar 1,25 persen. Sementara itu, secara year-on-year, Manado mengalami inflasi sebesar 1,44 persen.
 
Adapun, Kota Kotamobagu secara tahun kalender mengalami inflasi sebesar 1,62 persen.  
 
"Manado dan Kotamobagu, deflasi di kedua kota tersebut sama didukung terjadinya deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau," ujar Ateng, Selasa (2/6/2020). 
 
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Manado mengalami deflasi sebesar 1,66 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,48  persen terhadap deflasi Mei 2020.  Di Kotamobagu, kelompok pengeluaran tersebut mengalami deflasi 1,83 persen dengan andil sebesar 0,62 persen.
 
Deflasi pada sektor  makanan, minuman, dan tembakau terutama didorong oleh komoditas cabai rawit.  Sumbangan deflasi cabai rawit di Manado sebesar 0,29 persen, sementara di Kotamobagu sebesar 0,34 persen.
 
Selain kelompok  makanan, minuman, dan tembakau, sektor yang mengalami deflasi di Manado adalah kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen. 
Untuk Kotamobagu, sektor lain yang mengalami deflasi adalah kelompok  informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,46 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,07 persen.
 
Sementara itu, Ateng mengatakan bahwa sektor transportasi mengalami inflasi yang cukup tinggi di dua kota tersebut.  Inflasi sektor transportasi di Manado sebesar 4,12 persen, sementara di Kotamobagu sebesar 4,21 persen. 
 
Inflasi pada sektor transportasi di Manado terutama didorong oleh angkutan udara, yakni sebesar 0,45 persen.  Sedangkan inflasi transportasi di Kotamobagu terutama disumbang oleh tarif kendaraan travel dan angkutan antar kota sebesar 0,32 persen.  
 
"Beberapa penjualan tiket pesawat sudah mulai merangkak naik. Mudah-mudahan ini bisa direm sehingga tidak menimbulkan inflasi cukup besar di bulan-bulan yang akan datang," katanya.
 
Adapun, Kota Manado menempati urutan ke-10 inflasi tertinggi di Pulau Sulawesi dan urutan ke-70 secara nasional, sedangkan Kotamobagu menempati urutan ke-11 inflasi tertinggi di Pulau Sulawesi dan urutan ke-71 secara nasional.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bps sulawesi utara deflasi
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top