BI: Ekonomi Sulut Tumbuh Positif dan Cenderung Menguat pada 2020

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memproyeksikan perekonomian Bumi Nyiur Melambai akan tumbuh positif dan cenderung menguat pada 2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  13:53 WIB
BI: Ekonomi Sulut Tumbuh Positif dan Cenderung Menguat pada 2020
Ilustrasi Kantor Gubernur Sulut - Antara

Bisnis.com, MANADO— Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memproyeksikan perekonomian Bumi Nyiur Melambai akan tumbuh positif dan cenderung menguat pada 2020 setelah melambat tahun lalu akibat sejumlah faktor eksternal.

Kepala Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat memproyeksikan harga komoditas utama Bumi Nyiur Melambai mulai menunjukkan tren positif sejak Oktober 2019. Selain itu, potensi penyesuaian kebijakan perikanan akan menjadi pendorong kinerja lapangan usaha (LU) pertanian dan industri pengolahan serta ekspor dari sisi permintaan.

Di sisi lain, kinerja sektor transportasi diperkirakan akan menguat. Optimisme itu sejalan dengan adaptasi masyarakat terhadap kisaran harga tiket pesawat dan peningkatan aksesibilitas di wilayah Sulut.

Selanjutnya, Arbonas memperkirakan investasi dan konstruksi juga diperkirakan akan tumbuh tahun ini. Faktor yang menjadi pendorong sektor itu yakni percepatan pembangunan proyek strategis nasional (PSN) seperti jalan tol Manado—Bitung, Bendungan Kuwil Kawangkoan, serta Bendungan Lolak.

Tidak hanya PSN, lanjut dia, pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata Likupang yang dimulai pada 2020 serta akses pendukungnya akan turut mendorong pertumbuhan investasi.

Sementara itu, Arbonas menyebut konsumsi pemerintah masih akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sulut pada 2020. Hal itu seiring adanya perbaikan realisasi belanja pemerintah.

“BI optimistis pertumbuhan ekonomi Sulut tumbuh positif dan cenderung menguat pada 2020,” jelasnya dalam siaran pers, Kamis (6/2/2020).

Dia mengatakan bank sentral terus mencermati berbagai perkembangan serta risiko eksternal dan domestik. Secara detail, faktor risiko eksternal di antaranya rencana pengetatan kebijakan moneter di negara ekonomi maju, kenaikan harga minyak, perang dagang, serta berlanjutnya tren negatif harga komoditas.

Untuk faktor internal atau domestik, BI mencermati risiko belum kuatnya konsumsi rumah tangga dan intermediasi perbankan. Adapun, dari sisi regional Sulut, risiko bersumber dari permasalahan infrastruktur seperti pembebasan lahan di lokasi KEK Bitung dan PSN serta keterbatasan pasokan listrik seiring dengan naiknya kebutuhan masyarakat.

Sebagai bentuk kontribusi mendorong perekonomian Sulut, Arbonas menyatakan bank sentral akan bertindak melalui strategic advisory, pengendalian inflasi, pengedaran uang, pengembangan wirausaha, mendorong gerakan non tunai, dan mendorong pengembangan sumber daya manusia Bumi Nyiur Melambai.

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulut perlu dijadikan pemicu untuk terus mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sulut di antaranya melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi produksi pertanian serta menciptakan hilirisasi industri pengolahan maupun pengembangan pariwisata,” paparnya.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melaporkan pertumbuhan ekonomi Bumi Nyiur Melambai 5,66 persen secara cumulative to cumulative (ctoc) pada 2019. Posisi itu melambat dibandingkan dengan 6,01 persen periode 2018.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, perlambatan pertumbuhan ekonomi itu sejalan dengan melambatnya pertumbuhan sejumlah komponen utama dari sisi produksi dan pengeluaran pada 2019.

Dari sisi produksi, lapangan usaha industri mengalami perlambatan pertumbuhan. Sektor itu hanya tumbuh 0,31 persen pada 2019 atau lebih rendah dari 4,48 persen tahun sebelumnya.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah melambat pada 2019 dibandingkan dengan periode 2018. Komponen itu tercatat hanya tumbuh 2,08 persen atau lebih rendah dari 6,10 persen tahun sebelumnya.

Selain itu, komponen ekspor barang dan jasa juga tercatat tumbuh melambat tahun lalu. Tercatat, terjadi perlambatan pertumbuhan dari 12,14 persen pada 2018 menjadi 0,54 persen tahun lalu. 

Adapun, peranan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah memegang peranan 17,03 persen dalam struktur ekonomi Sulut menurut pengeluaran pada 2019. Sementara itu, ekspor barang dan jasa berkontribusi sebesar 24,33 persen.

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sulut

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top