BI: Risiko Inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Masih Bayangi Manado

Risiko tekanan inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih membayangi Kota Manado, Sulawesi Utara, meski mengalami deflasi 0,09 persen secara month to month pada Januari 2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  08:19 WIB
BI: Risiko Inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Masih Bayangi Manado
Inflasi Januari 2019 mencapai 0,32%

Bisnis.com,MANADO— Risiko tekanan inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih membayangi Kota Manado, Sulawesi Utara, meski mengalami deflasi 0,09 persen secara month to month pada Januari 2020.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat menjelaskan bahwa makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok utama yang menahan deflasi lebih dalam di Kota Manado. Pasalnya, kelompok itu memberikan andil inflasi sebesar 0,28 persen secara month to month (mtm) dari deflasi Kota Manado sebesar 0,09% pada Januari 2020.

Lebih lanjut, Arbonas mengungkapkan tekanan inflasi dari kelompok itu terutama disebabkan oleh makanan dan tembakau. Menurutnya, kondisi cuaca yang mulai tidak menentu menyebabkan kenaikan harga komoditas seperti ikan cakalan dan ikan tude yang turut berkontribusi terhadap inflasi.

Selain itu, dia menyebut Peraturan Menteri Keuangan No.152/PMK.04/2019 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau sudah mulai diberlakukan. Hal itu berdampak terhadap kenaikan harga rokok di Kota Manado.

“Meski mengalami deflasi pada Januari 2020, risiko tekanan inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih membayangi Manado,” jelasnya dalam siaran pers yang dikutip, Selasa (4/2/2020).

Sementara itu, Arbonas mengatakan deflasi Kota Manado pada Januari 2020 terutama disebabkan oleh penurunan harga-harga di kelompok transportasi. Sektor itu memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,45 persen secara mtm dari total deflasi 0,09 persen secara mtm.

Dari komoditas penyusunnya, lanjut dia, penyesuaian tarif angkutan udara sebesar -14,35 persen secara mtm menjadi penyebab utama deflasi Manado. Adapun, penyesuaian tarif angkutan udara terjadi seiring penurunan mobilitas masyarakat pasca Natal dan Tahun Baru.

“Data survei pemantauan harga (SPH) Bank Indonesia mengkonfirmasi fenomena penurunan tarif angkutan udara di mana survei tersebut mencatat tarif angkutan udara secara rata-rata turun Rp147.798. Selain tarif angkutan udara, penyesuaian harga bensin yang Oktan 92 ke atas pada awal Januari menjadi salah satu faktor penyebab deflasi indeks harga konsumen di Manado,” paparnya.

Kantor Perwakilan BI Sulut memandang positif pencapaian inflasi Bumi Nyiur Melambai pada Januari 2020. Posisi itu dinilai masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0 +- 1 persen secara year on year. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, inflasi Sulut

Editor : Hafiyyan
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top