Sulsel Ekspor 7.930 Ton Komoditas Unggulan

Pemprov Sulsel, kembali melakukan direct call atau ekspor langsung ke sejumlah negara Asia.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 20 November 2019  |  17:50 WIB

Bisnis.com, MAKASSAR -- Pemerintah Provinsi Sulsel, kembali melakukan direct call atau ekspor langsung ke sejumlah negara Asia.

Sebanyak 500 TEUs (Twenty-foot Equivalent Unit) 7.930 komoditi unggulan Sulsel yang diekspor melalui Pelabuhan Peti Kemas Makassar disaksikan oleh Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Adapun jenis komoditi yang diekspor di antaranya kacang mede, kakao, playwood, nikel, rumput laut, dan komoditas unggulan. Kepala Dinas Perdagangan Hadi Basalamah menyebut negara tujuan ekspor komoditi yakni Tiongkok, Hongkong, Korea dan Jepang.

"Komoditi unggulan yang dikirim hari ini, berasal dari 18 eksportir, dengan nilai 19,7 USD," jelas Hadi.

Ditambahkan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, program direct call sangat membantu utamanya para eksportir dari sisi efisiensi waktu hingga pemangkasan biaya.

Dia mencontohkan, sebelum ada direct call pengiriman ke Jepang butuh waktu 32 hari, saat ini hanya 12 hari.

"Kita juga bersyukur, Pelindo IV melakukan banyak inovasi, dengan menyatukan semua izin-izin ekspor. Kita juga menurunkan dweling time. Dulunya kita bergantung dari Jakarta dan Surabaya. Sekarang sudah mulai banyak masuk lewat Sulsel," terang Nurdin.

Kendati bukan yang pertama kalinya, Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto menyambut baik program direct call yang dilakukan Sulsel. Menurutnya, selama ini ekspor Indonesia masih ditopang komoditi primer, serta sektor industri.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Arief Pabettengi mengakui secara umum hingga saat ini Sulsel mampu menunjukkan akselerasinya dari sektor ekspor.

Hal itu menurut dia, menjadi alasan Menteri Perdagangan mengunjungi Sulsel sebagai daerah pertama semenjak Agus menjabat.

"Direct call ini sangat luar biasa. Pertama, dibuka hanya delapan kontainer. Sekarang ini kapal besi masuk malam, dan hampir 500 kontainer. Sebulan dua kali berarti bisa sampai 900 sampai 1.000 kontainer," beber Arief.

Diakui Arif, regulasi ekspor saat ini sudah tidak terlalu banyak hambatan. Yang dibutuhkan para pelaku usaha hari ini yakni kepastian harga dan waktu.

Termasuk terkait efisiensi dan tarif yang bisa lebih bersaing serta regulasi dari perbankan dan aturan dari karantina yang minimal bisa membantu pelaku usaha.

"Jangan sampai sedikit-sedikit dibuatkan regulasi yang notabene menghambat pengusaha ekspor," tuturnya.

Kendati demikian, sebelumnya Pemerintah Provinsi Sulsel juga telah berkomitmen untuk menjamin kemudahan para pelaku usaha eksportir agar lebih dimudahkan dalam proses perizinan ekspor.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, sulsel

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top