Menepis Kesenjangan Sosial Ekonomi di Pesisir Kota Daeng

Kondisi sosial yang memprihatinkan perlahan mulai lepas dari citra kawasan Pesisir Pattingalloang seiring dengan dihidupkannya program pemberdayaan, pendidikan, serta kesehatan oleh PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII bekerjasama dengan lembaga sosial yang digagas Nuraeni.
St. Hamdana Rahman
St. Hamdana Rahman - Bisnis.com 15 November 2019  |  07:09 WIB
Menepis Kesenjangan Sosial Ekonomi di Pesisir Kota Daeng
Proses pembinaan di Sekolah Anak Percaya Diri Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan, Ujung Tana, Kota Makassar, Sulawesi Selatan - Bisnis/St. Hamdana Rahman

Kelam. Itu adalah kata yang sedikit bisa menggambarkan kondisi pemukiman pesisir di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan.

Permasalahan sosial ekonomi menjerat masyarakatnya masuk dalam catatan suram. Sebut saja tindakan asusila, kekerasan dalam rumah tangga, hingga narkoba. Dari jejeran perilaku negatif itu, anak-anak dan perempuan menjadi korban utamanya.

Salah satu warga yang kini menjadi Ketua Kelompok Wanita Nelayan di Pattingalloang, Nuraeni (50), memiliki keprihatinan dengan kondisi tersebut dan berinisiatif menggagas sejumlah program social enterpreneur. Tujuan utama Nuraeni adalah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di lingkungannya.

Namun menurut Nuraeni, keterbatasan sumber daya menjadi tantangan kemajuan dari program yang dijalankannya. Keterbatasan tersebut membuat asa Nuraeni untuk mendorong kesejahteraan masyarakat Pattingalloang sempat meredup, namun kembali hidup saat PT Pertamina (persero) Tbk. menawarkan dukungan untuk memfasilitasinya, mulai dari pembiayaan hingga pendampingan.

Kondisi sosial yang memprihatinkan perlahan mulai lepas dari citra kawasan Pesisir Pattingalloang seiring dengan dihidupkannya program pemberdayaan, pendidikan, serta kesehatan oleh PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII bekerjasama dengan lembaga sosial yang digagas Nuraeni.

Nuraeni bercerita, ada banyak anak di Pattingalloang mengalami pelecehan seksual dan kekerasan, bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Anak-anak yang menjadi korban pun mengalami krisis kepercayaan diri dan moral.

"Tapi Dengan pembinaan yang intensif di Sekolah Anak Percaya Diri yang dicetuskan Pertamina, perlahan anak-anak ini menjadi lebih aktif dan berani, bahkan mampu mencatatkan prestasi," ujarnya.

Kurikulum Sekolah Anak Percaya diri dirancang lebih efektif untuk mengobati trauma, seperti melatih bakat seni dan menyediakan pendampingan dari psikolog.

Problematika anak di Pattingalloang tak hanya pelecehan dan kekerasan, tapi juga gizi buruk. Pattingalloang merupakan pemukiman padat penduduk yang tidak tertata dengan baik bahkan cenderung kumuh. Lingkungan yang kurang bersih serta kurangnya kesadaran orang tua pun menyebabkan puluhan balita di Pattingalloang terserang gizi buruk.

Nuraeni menuturkan, persoalan gizi buruk di Pattingalloang juga tak luput dari perhatian pihak Pertamina. BUMN tersebut kemudian menerapkan program Sehati (sehat anak ibu tercinta) pada tahun 2018, yang fokus menangani gizi buruk. Hingga Oktober 2019, program Sehati yang menggandeng Puskesmas setempat, berhasil memperbaiki gizi 16 balita dari target 23 balita.

"Alhamdulillah, berkat inisiatif Pertamina dalam menjalankan kegiatan Sehati ini, balita-balita di lingkungan kami bebas dari ancaman serangan stunting," sebut Nuraeni.

Aktifis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK) Makassar, Andi Musdalifah, menilai, Kelurahan Pattingalloang masuk dalam zona merah kekerasan perempuan serta human trafficking.

Musdalifah yang digandeng Pertamina untuk menjadi pendamping wanita-wanita pesisir, menyebut, perlu penanganan khusus bagi lingkungan yang dihuni sekitar 5.000 penduduk, untuk lepas dari zona tersebut.

"Keterlibatan Pertamina untuk memfasilitasi pendampingan bagi wanita korban kekerasan dan kemudian memberdayakannya, lambat laun membuahkan hasil nyata," terang Musdalifah.

Dia melanjutkan, wanita-wanita pesisir yang dulunya hanya berpangku tangan bahkan menjajakan diri, kini memiliki penghasilan sendiri rata-rata Rp2 juta per bulan, dari hasil berwirausaha kecil-kecilan.

"Tak ada lagi wanita-wanita pesisir yang menjajakan diri hanya demi bertahan hidup. Di Kelompok Belajar Wanita Berdaya yang didirikan Pertamina, mereka dibekali berbagai skill. Hari-hari ini, mereka sibuk mengembangkan kapabilitas."

Musdalifah menambahkan, Program pendidikan Sekolah Anak Percaya Diri (SAPD), program kesehatan penanganan gizi buruk, hingga pembentukan Kelompok Belajar Wanita Berdaya, lambat laun menyelamatkan masyarakat Pattingalloang dari belenggu kesenjangan sosial.

Sementara itu, Unit Manager CSR & Communication Pertamina MOR VII, Hatim Ilwan, menjelaskan, dukungan bagi masyarakat Pattingalloang tak hanya sekedar gelontoran dana dari perseroan, tapi memberikan pendampingan berkelanjutan hingga masyarakatnya mampu mandiri secara ekonomi.

Lanjut Hatim, perhatian utamanya diberikan bagi anak-anak yang trauma karena menjadi korban dari perilaku menyimpang, agar membangun mimpi mereka kembali.

"Kami yakin, setiap anak memiliki mimpi, begitu pula anak di Pattingalloang. Anak-anak adalah tonggak masa depan Indonesia, di bahu mereka digantungkan nasib bangsa. Kita bertanggungjawab melindungi dan mendampingi mereka meraih masa depan gemilang."

Hatim menambahkan, goals yang paling prinsipil dari Pertamina yaitu agar masyarakat Pattingalloang benar-benar merasakan efek berkelanjutan dari program-program yang dijalankan. "Tentu ini tidak akan instan, tapi dengan pendampingan maksimal, kami yakin akan terwujud," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, makassar

Editor : Amri Nur Rahmat
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top