BI: Tekanan Inflasi November di Sulut Cenderung Tinggi

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat menyebut potensi berlanjutnya kenaikan harga tomat sayur pada November 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 03 November 2019  |  14:19 WIB
BI: Tekanan Inflasi November di Sulut Cenderung Tinggi
Ilustrasi. Aktivitas pedagang dan konsumen di pasar tradisional. - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, MANADO — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memperkirakan tekanan inflasi di Bumi Nyiur Melambai cenderung tinggi pada November 2019 dengan bersumber dari kenaikan harga komoditas strategis.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat menyebut potensi berlanjutnya kenaikan harga tomat sayur pada November 2019. Hal itu tercermin dari pemantauan harga Bank Indonesia (BI) di mana harga tomat sayur bergerak ke level harga Rp8.000 per kilogram pada minggu ke-5 Oktober 2019.

Dia menjelaskan bahwa pergerakan harga tomat sayur di Sulawesi Utara (Sulut) cenderung berfluktuasi sepanjang 2019. Komoditas itu sempat mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut pada Februari 2019—April 2019 dan Juli 2019—September 2019.

Kendati demikian, pihaknya memprediksi adanya risiko pembalikan harga atau price reversal tomat sayur pada Oktober 2019—Desember 2019. Pasalnya, rentang waktu itu merupakan periode permintaan tinggi terhadap tomat sayur di Sulut.

“Risiko pembalikan harga itu sudah terlihat di data inflasi Oktober 2019, tomat sayur kembali menjadi kontributor utama inflasi bulanan Sulut. Berlanjutnya kenaikan harga setelah pembalikan harga berisiko berlanjut pada November 2019 dan Desember 2019,” paparnya dalam siaran pers yang dikutip, Minggu (3/11/2019).

Dengan mempertimbankan resiko tersebut, Arbonas menekan pergerakan harga tomat sayur perlu diwaspadai dan mendapat perhatian lebih dari seluruh instansi, lembaga, atau dinas terkait. Menurutnya, perlu dirumuskan langkah dan strategi jangka pendek khususnya dalam menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara memperkirakan tekanan inflasi Sulut pada November 2019 masih cenderung tinggi. Laju inflasi diperkirakan akan bersumber dari berlanjutnya kenaikan harga komoditas strategis.

Selain itu, faktor cuaca berisiko mempengaruhi produksi komoditas sub kelompok bumbu-bumbuan. Namun, hal itu dapat diredam dengan normalisasi pasokan dari luar pulau yang berpeluang menekan penurunan harga lewat perdagangan antar daerah.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara optimistis tingkat inflasi Bumi Nyiur Melambai periode 2019 masih dapat dikendalikan sesuai dengan sasaran inflasi nasional 3,5+-1%. Upaya pengendalian inflasi diklaim terus dilakukan oleh BI bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota.

Seperti diketahui,  Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara mencatat inflasi Bumi Nyiur Melambai yang diwakili Kota Manado sebesar 1,22 persen pada Oktober 2019. Posisi itu lebih tinggi dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,02 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, sulut

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top