Hingga Agustus 2019, BI Sulut Temukan 135 Lembar Uang Palsu

Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara telah menemukan 135 lembar uang palsu pada Januari 2019Agustus 2019 yang mayoritas berasak dari Kota Manado.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 September 2019  |  17:40 WIB
Hingga Agustus 2019, BI Sulut Temukan 135 Lembar Uang Palsu
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat membuka acara Sosialisasi Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center dan Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (21/9/2019) - Bisnis/Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, MANADO — Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara telah menemukan 135 lembar uang palsu pada Januari 2019—Agustus 2019 yang mayoritas berasal dari Kota Manado.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengungkapkan pihaknya telah menemukan 135 lembar uang palsu yang beredar di wilayah Sulut hingga Agustus 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 lembar berasal dari Kota Manado.

Dia menjelaskan bahwa secara detail, 73 persen atau sebanyak 99 lembar temuan uang palsu hingga Agustus 2019 berasal dari verifikasi perbankan. Selanjutnya, 9 persen atau 12 lembar berasal dari laporan masyarakat yang datang langsung ke Bank Indonesia (BI).

Dari sisi pecahan, BI Sulut melaporkan bahwa 58 persen atau 78 lembar uang palsu tersebut berbentuk pecahan nominal Rp100.000. Sisanya, 41 persen atau 56 lembar berbentuk pecahan nominal Rp50.000 dan hanya 1 lembar yang berbentuk pecahan nominal Rp20.000.

“Ini tidak boleh tidak diwaspadai karena faktanya sudah ada barangnya,” jelasnya di sela-sela Sosialisasi Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center dan Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah di Manado, Sabtu (21/9/2019).

Lewat kegiatan sosialisasi tersebut, Arbonas menegaskan ingin melakukan penyegaran kembali pemahaman mengenai keaslian mata uang rupiah. Forum tersebut juga menjadi wadah bagi para peserta yang berasal dari kalangan perbankan untuk mendiskusikan temuan terbaru serta berbagi pengalaman.

“Dengan adanya sosialisasi ini, mereka [perbankan] akan terbantu untuk menyegarkan kembali apa yang perlu mereka bantuk untuk membantu BI mengurangi atau memberantas pemalsuan uang,” jelasnya.

Arbonas mengungkapkan sudah melakukan 24 kali kegiatan sosialisasi ciri keaslian mata uang rupiah. Adapun, sebanyak 10 kali dilakukan di Kota Manado dan 14 kali tersebar di beberapa kabupaten.

Dia menambahkan biasanya pengedar uang palsu menyasar kalangan masyarakat menengah ke bawah. Para pelaku membidik pasar orang dengan berpendidikan rendah dan menjalankan usaha yang membutuhkan transaksi cepat.

Arbonas menekankan peredaran uang palsu sangat merugikan dari sisi ekonomi. Peredaran uang palsu 10 persen dari total uang asli misalnya, akan menambah jumlah uang beredar yang statistiknya tidak dimiliki oleh bank sentral sehingga berpotensi menimbulkan inflasi di masyarakat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, uang palsu, sulut

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top