Ikhtiar Mengembalikan Ketenaran Kain Sutra Sulawesi

Popularitas kain sutra khas asal Sulsel yang tenar sejak tahun 1980-an pamornya semakin berkurang.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  19:26 WIB
Ikhtiar Mengembalikan Ketenaran Kain Sutra Sulawesi
Pengunjung melihat kokon yang merupakan bahan dari kain sutera. - JIBI

Bisnis.com, MAKASSAR — Popularitas kain sutra khas asal Sulsel yang tenar sejak tahun 1980-an pamornya semakin berkurang.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah prihatin turunnya popularitas kain khas asal Sulsel tersebut. "Kami sudah mengumpulkan seluruh stakeholder terkait untuk mendukung peningkatan produksi dan distribusi sutra yang merupakan khas dari Sulsel," ungkap Nurdin, Rabu (14/8/2019).

Terdapat tiga daerah pengembang kain tenun sutra di Sulsel yang mulai dikenal sejak tahun 80an yaitu Kabupaten Wajo, Soppeng, dan Enrekang. Tak hanya dikenal di pasar lokal, kain sutra dari ketiga daerah itu juga kerap kali mengisi pasar nasional.

Sebelumnya bersama Pemkab Wajo, Nurdin menggelar Focus Group Disscusion (FGD) dengan menghadirkan pihak Bank Indonesia (BI) Sulsel, Asisten Bupati Soppeng, Dinas Perindustrian Sulsel, Biro Ekonomi Sulsel, Dinas PTSP Sulsel, dan Dinas Pertanian Sulsel.

Nurdin menyatakan, selama masih bisa mendorong perkembangan kain sutra, tidak ada alasan untuk membuatnya mundur dari industri kain tenun. Di beberapa negara, kain sutra bahkan memiliki kedudukan yang eksklusif dengan nilai yang fantastis. Apalagi ketika jenis kain ini dijadikan bahan dasar pakaian.

"Industri kain sutra sudah menjadi usaha dan kerajinan turun temurun bagi masyarakat Wajo maupun Soppeng. Saya kira kita harus sama-sama merumuskan persoalan ini," katanya.

Nurdin juga meminta masukan dari pihak terkait untuk membangun konsep peningkatan produktivitas ulat sutra yang sudah di budidaya. Kolaborasi menurutnya menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan teknologi yang mumpuni.

Salah satu bukti kain sutra Sulsel diminati oleh negara asing kata Nurdin adalah ketika Konsulat Jendral Jepang menunjukkan ketertarikannya untuk menudukung pengembangan industri tersebut.

"Kita berharap pertemuan sebelumnya bisa mendorong sebuah kesepakatan bersama untuk produksi sutra. Karena ini bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi masyarakat," terangnya.

Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, Ahmadi Akil menjelaskan, potensi untuk mengembangkan kain sutra Sulsel memang cukup besar. Meski belum bisa menyebut besarannya. Namun, Ahmadi optimistis Pemprov Sulsel bisa mewujudkan keinginan itu. Sejumlah langkah strategis bakal diambil Pemprov Sulsel.

Apalagi berdasarkan data asosiasi industri sutra di Wajo, produksi Wajo dan Soppeng, dan Enrekang sebanyak 200 ton benang sutra per tahun. Angka tersebut hanya bisa mengisi sebagian kecil pasar sutra nasional.

"Kami akan rumuskan dulu hasil FGD nya. Ditargetkan pekan ini semua rampung. Intinya seluruh pihak siap bersinergi," kata Ahmadi. (k36)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tenun, KAIN Sutera

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top