Kejar Target Inflasi, BI Sulut Fokus Benahi Asimetri Informasi

Bank Indonesia Sulawesi Utara akan berfokus menyelesaikan persoalan asimetri informasi dan pola tanam komoditas bawang, rica, dan tomat untuk mengendalikan inflasi sesuai dengan target hingga akhir tahun.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  21:12 WIB

Bisnis.com, MANADO – Bank Indonesia Sulawesi Utara akan berfokus menyelesaikan persoalan asimetri informasi dan pola tanam komoditas bawang, rica, dan tomat untuk mengendalikan inflasi sesuai dengan target hingga akhir tahun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Arbonas Hutabarat menjelaskan persoalan asimetri informasi menjadi kendala pengendalian inflasi di Bumi Nyiur Melambai. Hal ini membuat harga komoditas bawang, rica, dan tomat atau barito cenderung bergejolak.

“Jadi memang ada asimetri informasi antara jumlah lahan produksi dan kapasitas produksi, dan data jumlah permintaan yang sesungguhnya. Yang penting petakan dulu cepat di tiga komoditas itu, karena tiga inilah yang membuat inflasi kita panas dingin,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia mengatakan bahwa persoalan itu membuat tidak ada koordinasi antardaerah dalam menentukan pola tanam. Tanpa adanya hal itu, hasil produksi sering kali tidak dapat terserap oleh pasar sepenuhnya atau sebaliknya.

Hal ini yang menyebabkan inflasi di Sulut tak terkendali pada Juni, mencapai 3,6%. Tabungan inflasi yang rendah bahkan deflasi pada bulan-bulan sebelumnya, terhantam tingkat inflasi pada bulan itu. Secara tahun berjalan inflasi sudah mencapai 4,77%, dan secara tahunan mencapai 5,1%.

Tomat sayur, lanjutnya, menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di Sulut. Penurunan harga pada maret april, diikuti kenaikan harga yang signifikan pada Mei—Juni. Andil tomat pada inflasi Juni mencapai 3,45%, artinya akumulasi inflasi dari komoditas lain hanya menyumbang 0,15%.

“Ini karena persoalan bobotnya juga, bawang dan rica itu tidak terlalu besar bobot inflasinya. Pada Juni, 3,45% dari inflasi disumbang dari tomat sayur, sisanya baru dari komoditas, gila nggak itu?” katanya.

Menurutnya, setelah persoalan informasi produksi dan konsumsi dibenahi, TPID juga perlu mendorong kepastian bagi para petani. TPID Sulut akan memfasilitasi perjanjian kerja sama antara pedagang dan petani, termasuk dengan pedagang dari daerah lain.

Hal ini dilakukan agar kapasitas produksi yang dihasilkan dapat terserap oleh pasar dengan dalam koridor harga yang telah disepakati. Pedagang dan petani diharapkan dapat bekerja sama untuk memprioritaskan kebutuhan konsumsi Sulut terlebih dahulu.

Apabila tercatat ada kelebihan produksi, TPID akan berkoordinasi dengan daerah lain untuk menyerap ekses itu. Menurutnya, hal ini dapat melibatkan instansi terkait seperti Perusahan Daerah (PD) Pasar dari daerah-daerah lain.

“Misalnya kebutuhannya 100 ton, tapi produksi 130 ton, ada ekses 30 ton. Hal itu dia bisa dibuat perjanjian dengan PD Pasar di Gorontalo atau di Makassar misalnya. Sehingga, petani ada kepastian, selama ini kan diserahkan kepada Tuhan, produksi dulu nanti berharap ada yang beli,” jelasnya.

Dengan strategi itu, dia optimistis inflasi pada akhir tahun dapat mencapai target 3,5±1%, atau tepatnya pada kisaran 3,5%—4%. Optimisime ini didasarkan pada perkiraan produksi hingga akhir tahun dan mulai berkurangnya faktor lain seperti kenaikan harga tiket pesawat.

“Kami akan hit di tengahnya saja, kami mau coba hit di 3,5%, meskipun proyeksi sampai dengan kuartal III adalah 3,6%. Kalau saya pribadi masih optimistis di 3,5%, tentunya harapannya lebih rendah dari tahun lalu,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, sulut

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top