Bangun Luwansa Hotel Manado, Santini Group Rogoh Rp200 Miliar

Santini Group menghabiskan dana sekitar Rp200 miliar untuk membangun Luwansa Hotel Manado. Proses konstruksi ditargetkan selesai dalam 14 bulan dan akan beroperasi mulai September 2020.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  17:21 WIB
Bangun Luwansa Hotel Manado, Santini Group Rogoh Rp200 Miliar
Head of DPUN Santini Group Sofyan Wanandi melakukan peletakan batu pertama pembangunan Luwansa Hotel Manado, Senin (29/7 - 2019).

Bisnis.com, MANADO – Santini Group menghabiskan dana sekitar Rp200 miliar untuk membangun Luwansa Hotel Manado. Proses konstruksi ditargetkan selesai dalam 14 bulan dan akan beroperasi mulai September 2020.

Presiden Direktur Santini Group Lukito Wanandi menjelaskan, hotel itu dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi di bilangan Pomorouw, Manado. Proses konstruksinya dilakukan oleh PT Recta Construction.

“Investasinya Rp200 miliar, itu dari dana internal kami semua. Luas tanahnya sekitar 5.000 meter persegi, nanti kami akan own and manage hotel ini. Nantinya akan jadi hotel kelas menengah atas, bintang 4,” katanya di Manado, Senin (29/7/2019).

Dia menuturkan, hotel ini akan memiliki 143 kamar dan ballroom berkapasitas 800 orang. Ada pula tujuh ruang rapat, kedai kopi, restoran, pusat kebugaran dan restoran yang akan ditawarkan. Dia menargetkan, tingkat penghunian kamar atau okupansi hotel itu dapat mencapai 60%.

“Kami sih tidak terlalu muluk-muluk untuk target ya, tetapi kalau melihat komitmennya Pemerintah Provinsi, rasanya sih okupansi di atas 60% kami optimistis lah, September 2020 kami optimistis sudah jadi,” jelasnya.

Proses realisasi investasi Santini Group memakan waktu cukup lama, hampir 2 tahun. Hal itu disebabkan oleh pemilihan lahan yang cukup memakan waktu. Perseroan sempat menyasar daerah lain seperti kawasan Boulevard Manado namun gagal karena persoalan harga.

Dia menuturkan harga di kawasan itu sudah terlalu tinggi dan dinilai tidak cocok untuk berinvestasi. Selain itu, menurutnya, kawasan yang merupakan lahan hasil reklamasi dianggap tidak bagus untuk investasi perhotelan berjangka panjang.

“Sudah mahal sekarang [lahan di Boulevard] dan sorry to say reklamasiya kan dibikin oleh lokal, kami tidak tahu seberapa kuatnya, sedangkan kami kita investasi harus jangka panjang. Akhirnya kami pilih di sini [Pomorouw] karena kebetulan dapat tawaran di sni, dan kami lihat lokasinya bagus,” jelasnya.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa kontur tanah lembah juga menjadi tantangan dalam proses konstruksi Luwansa Manado. Dalam perencanaannya, konstruksi akan menggunakan tiang-tiang pancang untuk membenahi persoalan kontur itu.

Kebutuhan tenaga kerja akan disuplai dari tenaga kerja lokal. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan untuk tahap awal perseroan akan mengimpor tenaga kerja dari daerah lain seperti Surabaya dan Bali.

Sementara itu, Head of DPUN Santini Group Sofjan Wanandi menuturkan, keputusan berinvestasi di Kota Tinutuan didasarkan pada pertumbuhan sektor pariwisata yang menjanjikan dalam beberapa tahun terakhir. Terlebih, setelah adanya penerbangan langsung dari China ke Manado.

“Kami semua kagte, merasa ketinggalan semua banyak sekali pengusaha hotel yang di mana-mana, sekarang merasa ketinggalan untuk masuk ke Manado. Tidak hanya Manado saja tapi daerah-daerah lain seperti Tomohon juga bisa kita jual,” tuturnya.

Dia menilai Sulawesi Utara, khususnya Manado, memiliki potensi pariwisata yang besar untuk menjadi seperti Bali. Menurutnya, infrastruktur dan kualitas tenaga kerja harus ditingkatkan untuk memaksimalkan potensi itu.

Senada, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Steven Kandouw mengakui bahwa kualitas tenaga kerja Sulut di bidang perhotelan masih cukup rendah. Masyarakatn Sulut dinilai masih belum sepenuhnya siap menerima kedatangan para pelancong.

“Saya berani katakan, dari nilai 1—10, nilai kita [SDM Sulut] ini baru 6. Tetapi sedikit demi sedikit kami akan giring dan perbaiki hal ini, dalam 2—3 tahun ke depan saya yakin hal ini akan teratasi. Hal ini wajar, karena tadinya turis cuma 10.000 sekarang jadi 150.000, jadi belum siap,” jelasnya.

Sebagai tahap awal, lanjutnya, tidak masalah apabila tenaga kerja pariwisata dan perhotelan masih mengandalkan SDM dari luar Sulut. Namun, secara perlahan diharapkan adanya transfer pengetahuan dan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas SDM lokal.

Di sisi lain, dia mengatakan bahwa investasi Santini Group ini akan membantu memenuhi kebutuhan jumlah kamar di Sulut. Dia mengatakan, dengan potensi terus meningkatnya jumlah kunjungan turis China, jumlah kamar hotel di Manado perlu tambahan besar.

“Pak Jokowi membocorkan kepada kami bahwa perbincangan dia dengan presiden Xi Jinping jumlah turis China masuk lewat Sulut itu akan sampai 2 juta orang per tahun, sekarang kan baru 150.000 orang per tahun. Berarti masih ada 1,85 juga orang lagi. Hitung sendiri berapa kamar yang masih kami perlukan,” jelasnya.

Untuk memfasilitasi hal itu, Pemprov Sulut tengah berupaya memperbaiki infrastruktur penunjang pariwisata. Salah satunya dengan merencanakan pelebaran runway Bandara Sam Ratulangi, Manado agar bisa memfasilitasi penerbangan lebih besar.

Pemprov Sulut juga berupaya untuk memudahkan proses investasi pariwisata. Untuk Santini Group misalnya, Steven mengatakan bahwa pihaknya akan memperlebar jalan di depan kawasan hotel yang saat ini masih berstatus jalan kota menjadi jalan provinsi.

“Nanti seiring dengan APBD berjalan, kan baru Januari [2020], maka ya statusnya jalannya yang sekarang milik Kota Manado kami usulkan jadi milik Provinsi Sulut. Setelah itu baru kami lebarkan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, sulut, sofjan wanandi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top