Asosiasi Petani Kelapa Belum Terima Kejelasan Ekspor ke Filipina

Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara (APEKSU) menyatakan belum menerima informasi lanjutan terkait rencana ekspor kelapa butir dan kopra ke Filipina.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  19:04 WIB
Asosiasi Petani Kelapa Belum Terima Kejelasan Ekspor ke Filipina
Proses pengasapan kopra. - Antara

Bisnis.com, MANADO — Asosiasi Petani Kelapa Sulawesi Utara (APEKSU) menyatakan belum menerima informasi lanjutan terkait rencana ekspor kelapa butir dan kopra ke Filipina yang akan memanfaatkan jalur pelayaran niaga Davao-Bitung-Ho Chi Minh City.

Kapal Baltic Summer berkapasitas 206 twenty-foot equivalent unit (TEU’s) dijadwalkan akan berlabuh di Bitung pada 2 Juli. Jadwal itu melewatkan rencana kedatangan semula yang sebelumnya dijadwalkan akan berlabuh pada 17 Juni.

Kapal berbendera Liberia itu rencananya akan mengangkut sejumlah komoditas unggulan Sulawesi Utara seperti kopra, jagung, dan kelapa butir. Namun demikian, Ketua APEKSU George Umpel menyatakan belum mendapat terkait permintaan dari Filipina.

“Masalahnya sekarang di sana [Filipina] pembelinya siapa? Kami di Sulut ada pengusaha yang mau beli, tapi dia harus pastikan dulu siapa yang tampung di Filipina, dan harganya berapa?” katanya kepada Bisnis, Kamis (20/6/2019).

Dia mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada pembelian kelapa butir ataupun kopra yang dilakukan pengumpul untuk tujuan ekspor tersebut. Pembelian masih urung terjadi lantaran belum ada kejelasan terkait harga beli komoditas itu.

Kendati demikian, dia mengharapkan kesepakatan dan kejelasan detail pengiriman kelapa tersebut dapat disampaikan kepada para petani. Dia menyambut positif rencana ekspor ini karena diharapkan dapat mengangkat kembali harga kelapa.

Goerge menuturkan, harga kopra saat ini adalah sekitar Rp4.500 per kilogram. Adapun, proses pembuatan kopra perkilogramnya membutuhkan sekitar 5—6 kelapa. Dia berharap, jika ekspor dalam bentuk kelapa butir benar terealisasi, harga jual yang diterima petani mencapai sekitar Rp2.500/butir.

Selain diharapkan memberikan harga yang lebih tinggi, pengiriman kelapa butir ini diharapkan dapat mengangkat harga kelapa di Sulut. Pasalnya, saat ini industri pengolahan membeli kelapa dan kopra dengan harga murah lantaran jumlah bahan baku melebihi kapasitas produksi.

“Paling tidak, dalam 1 minggu ini sudah ada kejelasan, dan memang kalau terjadi ekspor ini akan menjadi luar biasa dampaknya. Perusahaan, pabrik-pabrik di sini supaya berpikir, alasan mereka kan selama ini over produksi sehingga harga ditekan ke petani,” jelasnya.

Dia juga mengharapkan, untuk mempermudah pengiriman, Baltic Summer diharapkan dapat berlabuh di Pelabuhan Amurang. Menurutnya, pelabuhan itu lebih dekat dari sentra kelapa Sulawesi Utara yang ada di Minahasa Selatan.

“Size kapalnya juga kan tidak terlalu besar, oleh karena itu saya usulkan kapal ini berlabuh juga di pelabuhan Amurang, karena dekat dengan sentra produksi dan biaya logistiknya akan lebih murah dibandingkan harus kirim dulu ke Bitung,” tuturnya.

Kapal Baltic Summer sementara ini langsung berlayar ke Ho Chi Minh City, Vietnam dan diperkirakan akan bersandar di sana hingga 27 Juni. Pelayaran dilakukan langsung ke kota yang pernah dinamai Saigon itu karena Bitung belum siap mengekspor barang.

Kapal itu dijadwalkan akan kembali ke Bitung pada 2 Juli setelah menyelesaikan lawatan ke Labuan, Malaysia dari Ho Chi Minh. Kapal itu akan melanjutkan pelayaran ke Ternate pada 4 Juli sebelum kembali berlabuh di Davao, Filipina pada 6 Juli.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopra

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top