OJK Minta Bank Sulutgo Revisi RBB

PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo atau Bank Sulutgo diminta melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) untuk paruh kedua tahun ini oleh regulator. Persoalan kualitas aset dan penyusutan laba menjadi pendorong utama.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  22:32 WIB
OJK Minta Bank Sulutgo Revisi RBB
Direktur Utama PT Bank Sulutgo Jeffry A.M. Dendeng - Bisnis/Akhirul Anwar

Bisnis.com, MANADO—PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo atau Bank Sulutgo diminta melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) untuk paruh kedua tahun ini oleh regulator. Persoalan kualitas aset dan penyusutan laba menjadi pendorong utama.

Direktur Utama Bank Sulutgo Jeffry A.M. Dendeng mengatakan bahwa revisi RBB tersebut diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, regulator menawarkan peluang tersebut setelah melihat tantangan yang dihadapi oleh perseroan pada paruh awal tahun ini.

“Mereka [OJK] mengetahui kondisi kami, mereka menyatakan apakah tidak ada pemikiran untuk melakukan RBB? Karena ini kan periodenya untuk revisi RBB, jadi kalau memang ada kondisi yang luar biasa, termasuk yang terjadi di kami bisa melakukan itu,” jelasnya di Manado, Rabu (29/5/2019).

Dia menjelaskan, salah satu kendala yang terjadi adalah persoalan kualitas aset yang menurun. Puncaknya, pada kuartal I/2019, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sempat mencapai sekitar 4%.

Hal itu, disebabkan oleh berpindahnya Rekening Kas Umum Daerah salah satu Pemerintah Kabupaten di Sulawesi Utara ke bank lain. Hal itu berimbas terhadap kualitas aset, seiring dengan berpindahnya payroll nasabah kredit perseroan.

Kredit yang tidak tertagih tersebut terus menurun kolektibilitasnya, hingga masuk kategori NPL. Dengan demikian, lanjutnya, perseroan perlu membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang cukup besar.

Total pembentukan CKPN memakan sekitar Rp110 miliar dari pos laba/rugi perseroan. Akibatnya, laba bank berjuluk Torang Pe Bank itu menurun tajam pada 3 bulan pertama tahun ini. Regulator menilai, perseroan perlu mengubah RBB untuk menyesuaikan dengan kondisi tersebut.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa sepanjang Mei persoalan aset mulai membaik. Pemerintah daerah yang bersangkutan memutuskan untuk kembali menggunakan layanan Bank Sulutgo untuk payroll ASN, sehingga perseroan dapat melakukan penagihan secara otomatis.

“Jadi karena NPL tinggi, dulu kan biasanya di bawah 1%, tapi kemarin sudah di sekitar 4,4%, ini kan harus kami upayakan supaya turun. Tetapi per Mei pertengahan, sudah sekitar 3,5%, mudah-mudahan ke depan akan terus membaik,” jelasnya.

Di luar persoalan laba, lanjutnya, perseroan sejatinya berhasil mencetak kinerja yang cukup positif pada pertumbuhan kinerja intermediasi. Total penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) berhasil melampaui target perseroan.

“Pertumbuhan kredit itu bagus sebenarnya, DPK juga sudah melampaui target, jadi secara perbankan, aset kami tumbuh besar, di atas target semuanya. Aset di atas target, kredit di atas target, cuma masalahnya di laba karena ada biaya CKPN, setelah ini tentunya akan mulai membaik,” jelasnya.

Sementara itu Direktur Pemasaran Bank Sulutgo Machmud Turuis mengatakan bahwa perseroan sudah membicarakan detil rencana perubahan RBB tersebut. Dia menuturkan, salah satu perubahan utama dalam revisi RBB tersebut adalah target laba.

"Kami ada rencana revisi RBB, tapi belum ada persetujuan prinsip dengan OJK, kami baru bahas kemarin, mudah-mudahan dalam waktu dekat ada kabar baik terkait revisi ini. Revisi secara keseluruhan, laba terutama," katanya.

Dia mengharapkan, perseroan dapat terus memperbaiki kinerja hingga akhir tahun ini untuk meningkatkan kepercayaan nasabah, khususnya pemerintah daerah yang ada di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, sulut

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top