Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Produksi Padi di Bombana Meningkat Signifikan

Petani di sejumlah wilayah desa dan kecamatan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai memasuki musim panen padi dengan produksi meningkat signifikan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Maret 2019  |  07:24 WIB
Produksi Padi di Bombana Meningkat Signifikan
Ilustrasi petani memanen padi. - Bisnis/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, KENDARI – Petani di sejumlah wilayah desa dan kecamatan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai memasuki musim panen padi dengan produksi meningkat signifikan dibandingkan dengan musim tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian Bombana, Andi Nur Alam mengungkapkan bahwa panen padi tersebut merupakan hasil tanam petani pada Desember 2018 dan awal Januari 2019.

"Panen kali ini dilakukan secara bertahap hingga April bahkan ada yang masih panen hingga Mei 2019," tulisnya melalui pesan singkat pada Senin (11/3/2019).

Hasil pantauan di Desa Lameroro Kecamatan Rumbia dan Kecamatan Lantari Jaya, gabah kering yang sudah dikemas dalam karung siap masuk gudang Bulog dengan harga sesuai standar yang sudah ditetapkan.

"Panen tahun ini meningkat cukup signifikan dibanding dengan tahun sebelumnya. Hasil produksi petani tahun ini rata-rata mencapai 7 ton - 8 ton per hektare, bahkan di Kecamatan Poleang ada yang menghasilkan 9 ton per hektare," kata petugas penyuluh lapaangan (PPL) Kecamatan Langtari Jaya, Jamaluddin Usman, secara terpisah.

Menurut dia, peningkatan produksi padi sawah petani di Bombana tahun ini berkat dari gerakan yang telah dicanangkan Bupati Bombana Tafdil melalui Gerakan Peningkatan Produksi Padi Sawah Irigasi (GP3SI) yang dimulai tahun lalu.

Jamaluddin mengemukakan program GP3SI yang bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertani Sultra, dengan memperkenalkan kepada para petani dengan sistim jajar legowo (Jarwo) yang diyakini bisa meningkatkan produksi padi yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Andi Nur Alam mengklaim ada sejumlah manfaat dengan menerapkan sistem Jarwo antara lain produktivitas tanaman padi bisa meningkat 30 hingga 40 persen serta mempermudah perawatan dan mengurangi hama penyakit.

Salah seorang petani sawah di Desa Lameroro, Kadir Masri, 60 tahun, mengakui bahwa program GP3SI membuat hasil produksi meningkat.

"Tahun lalu kami hanya bisa meperoleh 5 ton hingga 6 ton per hekatre, setelah melalui program GP3SI meningkat hingga 7 ton hingga 8 ton per hektare," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

padi sulawesi tenggara

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top