Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pantau Langsung, Kemendag Optimistis Harga & Pasok Bapok Sulut Terkendali

Kementerian Perdagangan optimistis stabilitas harga kebutuhan pokok di Sulawesi Utara dapat terjaga dalam momentum Ramadan tahun ini.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 03 Mei 2018  |  22:22 WIB
Pantau Langsung, Kemendag Optimistis Harga & Pasok Bapok Sulut Terkendali
Staf Ahli Mendag Bidang Pengamanan Pasar Sutriono Edi (kedua dari kanan) beserta Sekretaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Sahudi (ketiga dari kanan) melakukan kunjungan ke pasar ritel modern di Manado, Kamis (3/5/2018). Kunjungan dilakukan untuk memantau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok menjelang Ramadan. -bisnis - Kurniawan A. Wicaksono
Bagikan

Bisnis.com, MANADO – Kementerian Perdagangan optimistis stabilitas harga kebutuhan bahan pokok (bapok) di Sulawesi Utara dapat terjaga dalam momentum Ramadan tahun ini.

Hal ini disampaikan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar, Sutriono Edi dalam kunjungannya ke Manado, Kamis (3/5/2018). Pihaknya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan Sulawesi Utara (Sulut) memantau harga di pasar ritel modern.

Kementarian Perdagangan, sambungnya, bertugas memastikan semua bahan pokok tersedia dengan harga yang stabil dan terjangkau. Selain itu, pasar ritel modern harus sudah memenuhi harga eceran tertinggi (HET).

“Dari pantauan dua tempat [pasar ritel modern] tadi, baik gula, minyak goreng, maupun beras, sudah sesuai HET. Bahkan, harga gula juga banyak yang di bawah HET. Saya juga tanya stoknya, mereka [pihak ritel] sudah siap sampai puasa dan lebaran,” ujarnya.

Sutriono meyakini untuk ritel modern, baik dari sisi pasokan maupun harga sudah relatif aman dan sesuai standar regulasi yang ada. Dengan demikian, pihaknya berharap semua masyarakat merasa tenang saat hari raya.

Kementerian Perdagangan memantau daging di pasar Sulut. - Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

Volatilitas harga kebutuhan pokok di pasar ritel modern, sambungnya, memang lebih stabil dibandingkan pasar tradisional. Ini dikarenakan manajemen sudah modern dan tertata rapi. Apalagi, pihak manajemen juga sudah relatif sadar dengan segala regulasi.

Terkait dengan HET, dalam pantauannya ke dua pasar ritel, dia menemukan masih ada beras yang tidak mencantumkan label jenis merek dan HET. Dia sudah meminta agar ke depan harus ada sticker atau label yang memberikan penanda produk.

Mengecek label merek dan HET. - Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

“Tadi karena sticker-nya belum tertulis ‘premium’, kami sarankan berikutnya dicantumkan. Memang aturan mengenai labeling akan dikeluarkan oleh pemerintah. Ini mengenai pelabelan beras baik merek dan isinya, sedang digodok lah,” imbuhnya.

Edukasi dan sosialisasi segala kebijakan terkait tata niaga akan terus dilakukan bekerja sama dengan Dinas Perdagangan daerah. Kebijakan, termasuk HET, sangat penting dalam memberikan kepastian hukum – yang berimplikasi pada standar kualitas – baik dari sisi pelaku usaha maupun konsumen.

\

Memantau harga bawang merah dan bawang putih. - Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

Secara umum, sambung Sutriono, indeks harga konsumen (IHK) selama Ramadan akan terjaga. Apalagi, selama 5 tahun terakhir, penjagaan tingkat inflasi juga tercatat cukup baik karena adanya kebijakan pantauan langsung di lapangan dengan TPID dan Satgas.

“Jadi kami akan terapkan juga model itu, semua diturunkan ke lapangan bekerja sama dengan dinas, Bulog, dan satgas pangan. Kami juga mau lihat pasar tradisonal besok pagi,” katanya.

Berfoto bersama dengan produk gula keluaran Bulog. n- Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

Dalam kunjungannya kali ini, Sutriono beserta tim juga meninjau stok salah satu distributor kebutuhan bahan pokok dan ke gudang Bulog di Bitung. Dalam kunjungan sekalian pemantauan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok kali ini, Sutriono didampingi oleh Sekretaris Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Sahudi.

Hadir pula Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw, Asisten Direktur Perwakilan BI Sulut Gunawan, dan Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sulut Hanny Wajong, serta Kepala Perum Bulog Divre Sulut Eko Pranoto.

Memantau stok di salah satu distributor. - Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

 Tomat Sayur

Terkait dengan tingginya harga tomat sayur, dia mengungkapkan pemerintah dan stakeholder terkait akan terus memantaunya. Apalagi, pada Jumat (4/5/2018), akan ada rapat koordinasi daerah yang melibatkan seluruh stakeholder.

“Ada dari Perhubungan, Satgas Pangan, dan sebagainya. Dengan demikian, kalau ada masalah pengapalan itu bisa kita cari solusinya. Kalau ada kekurangan pasokan bisa didatangkan dari wilayah lain seperti Makassar atau Gorontalo, misalnya,” jelas Sutriono.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw mengatakan pergerakan harga tomat sayur pada bulan lalu memang sangat dipengaruhi oleh cuaca. Dalam beberapa bulan terakhir, hujan terus terjadi.

“Jadi, cuaca ini kadang-kadang memang enggak bisa kita prediksi sekarang karena petani juga masih menggunakan teknologi konvensional. Kalau dari Disperindag, kami cuma bisa mengkomunikasikan dengan beberapa daerah penghasil, seperti Sulawesi Tengah,” jelas Jenny.

Saat ditanya terkait persiapan Ramadan, dia berharap rapat koordinasi daerah yang akan digelar bis mencari tahu potensi masalah dan solusinya. Untuk mengantisipasi kurangnya pasokan, pihaknya menegaskan akan slelau berkoordinasi dengan daerah-daerah penghasil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Jenny Karouw. - Bisnis.com/Kurniawan A. Wicaksono

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IHK di Manado pada April 2018 sebesar 1,09% (month to month/mtm) atau 2,28% (year to date/ytd) dan 2,24% (year on year/yoy). Capaian ini mencatatakan posisi kenaikan tertinggi dibandingkan dengan kota lain di Sulawesi.

Jika melihat dari kelompoknya, bahan makanan menyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan IHK mencapai 6,22%. Tomat sayur yang pada Maret 2018 menjadi penyumbang deflasi justru berbalik menjadi penyumbang inflasi pada April 2018. Tomat sayur mencatatkan kenaikan indeks hingga 1,21%.

Kepala BPS Sulut Moh. Edy Mahmud mengatakan kenaikan harga komoditas ini sudah relatif tinggi mulai minggu pertama April, di kisaran Rp10.500-Rp11.000 per kilogram. Kali ini, harga sudah merangkak naik hingga Rp12.000-Rp13.000 per kilogram.

Padahal, pada Maret 2018, harga tomat sayur di kisaran Rp5.000-Rp6.000 per kilogram. Edy melihat ada gangguan dari sisi suplai atau pasokan karena dampak dari cuaca yang tidak mendukung produksi.

Soekowardojo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut mengungkapkan dari informasi di lapangan, pasokan tomat sayur memang menurun karena pertama, cuaca yang tidak menentu dan membuat petani mendorong bersikap menunggu untuk menghindari risiko kerusakan.

Kedua, selisih harga positif antara Manado dan daerah lain mendorong petani melakukan arbitrase dengan menjual ke luar daerah. Ketiga, harga cabai yang lebih tinggi dari tomat sayur serta risikonya yang lebih rendah mendorong petani memilih menanam cabai.

Memantau kualitas dan harga bawang serta cabai. - Bisnis.com - Kurniawan A. Wicaksono

“Diperkirakan untuk Mei 2018, tekanan inflasi berpotensi meningkat, sejalan dengan meningkatnya permintaan bahan makanan dan nonmakanan di bulan Ramadan yang jatuh minggu ke 3 hingga minggu akhir Mei,” ujarnya.

BI Sulut, sambung Soekowardojo, memperkirakan inflasi pada 2018 di Bumi Nyiur Melambai akan berada di dalam kisaran 2,5±1% (yoy). Pengendalian inflasi 2018, menurutnya, perlu didukung oleh ketersediaan bahan pokok strategis yang memadai.

Program-program kerja TPID melalui program klaster barito (bawang, rica, tomat), operasi pasar, sidak pasar, pasar murah jelang hari raya keagamaan dan pemantauan harga serta pasokan bahan strategis menjadi upaya penting untuk dilaksanakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahan pokok
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top