Manado Alami Deflasi 0,79% pada September 2018

Oleh: Deandra Syarizka 01 Oktober 2018 | 21:01 WIB
Manado Alami Deflasi 0,79% pada September 2018
Belanja di pasar/Antara

Bisnis.com, MANADO—Kota Manado mengalami deflasi sebesar 0,79% pada September 2018, atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,16 pada Agustus 2018 menjadi 130,12 pada September 2018.

Hal tersebut terutama disebabkan oleh adanya penurunan indeks pada kelompok pengeluaran bahan makanan, kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono menjelaskan, deflasi Sulut pada September lebih tinggi dari deflasi nasional sebesar 0,18% pada September.

Adapun, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi Kota Manado adalah tomat sayur sebesar 0,58%, diikuti oleh angkutan udara sebesar 0,15%, cabai rawit 0,08%, bawang merah 0,03%, cabai merah 0,03%, emas perhiasan 0,02%, daging ayam ras 0,007%, pisang 0,005%, telur ayam ras 0,004%, dan bawang putih 0,004%.

“Untuk IHK kelompok transportasi mengalami deflasi 0,94% dari Agustus. Nampaknyaharga tiket angkutan udara sudah mulai menurun, dari tiga bulan kemarin harga tiket mengalami kenaikan,” ujarnya, Senin (01/10).

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil inflasi adalah tindarung sebesar 0,02%, daun bawang 0,016%, kangkung 0,012%, sawi hijau 0,009%, seng 0,009%, jeruk nipis/limau sebesar 0,008%, daging babi 0,008%, buncis 0,005%, lemon 0,005% dan mujair 0,005%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Soekowardojo menjelaskan, secara tahunan, inflasi sulut pada bulan September juga tercatat lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya (1,20%, yoy) namun lebih rendah dari rata-rata inflasi Sulut 5 tahun terakhir (4,98%, yoy).

Sementara secara spasial, Kota Manado merupakan Kota dengan inflasi terendah No.5 dari 11 Kota di Sulawesi, yang seluruhnya mengalami deflasi di Bulan September.

Lebih lanjut,  Bank Indonesia Provinsi Sulut memperkirakan inflasi  Sulut akan berada pada rentang 3,5±1% (yoy) sepanjang tahun 2018. Koordinasi yang kuat antara Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia melalui wadah TPID menjadi kunci untuk mencapai target rentang inflasi.

“ Melihat kondisi inflasi pada semester pertama tahun 2018, TPID akan terus memantau secara ketat dan akan melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk mengendalikan harga, terutama pada kelompok Bahan Makanan serta kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan yang berpotensi memberikan tekanan yang cukup tinggi pada inflasi Sulut,” ujarnya.

Dia menambahkan, TPID juga tetap melakukan berbagai langkah untuk memelihara ketersediaan pasokan, menjaga keterjangkauan harga, memastikan kelancaran distribusi dan melaksanakan komunikasi ekspektasi.

Salah satunya pada  September lalu, TPID bekerjasama dengan Bulog melakukan operasi pasar untuk menjaga pasokan dan kestabilan harga beras di tengah risiko kemarau.

Di samping itu, TPID Provinsi juga sudah melakukan koordinasi dengan TPID Kabupaten/kota se-Bolmong Raya mengingat Kotamobagu akan menjadi salah satu daerah kajian inflasi di Sulut selain Manado. Sementara itu, pada Bulan Oktober akan dilakukan sosialisasi roadmap Pengendalian Inflasi 2019-2021 yang dilaksanakan secara terpusat di Jakarta.

 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya