Ekspor Sulsel Kembali ke Titik Pelemahan pada April 2018

Oleh: Amri Nur Rahmat 15 Mei 2018 | 17:30 WIB
Refleksi tumpukan peti kemas/ANTARA-Iggoy el Fitra

Bisnis.com, MAKASSAR - Kinerja eksportasi Sulawesi Selatan kembali berada pada titik pelemahan pada April 2018 dengan penurunan 1,68% secara bulanan menjadi US$90,34 juta.

Padahal pada bulan sebelumnya, performa nilai ekspor daerah tersebut mampu berada pada tren pertumbuhan dengan laju 1,45% secara bulanan.

Kinerja negatif pada April 2018 tersebut semakin menekan realisasi ekspor Sulsel secara kumulatif Januari-April 2018 yang turun 4,17% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sulsel, Akmal mengemukakan kinerja negatif pada April 2018 itu sangat dipenuhi oleh nilai ekspor komoditas nikel yang terkoreksi hingga 10,13% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Komoditas nikel sebagai penyumbang utama struktur ekspor Sulsel pada April 2018 berada pada angka US$52,65 juta sedangkan pada bulan sebelumnya lalu menyentuh angka US$58,58 juta.

"Peran komoditas ini [nikel] terhadap struktur ekspor Sulsel di April 2018 mencapai 58,28%. Sehingga sangat mempengaruhi kumulatif, jika nikel ini terkoreksi," katanya dalam paparan di Kantor BPS Sulsel, Selasa (15/5/2018).

Menurut dia, laju positif pada beberapa komoditas utama bisa menekan koreksi kinerja ekspor Sulsel pada April 2018 jauh lebih dalam dan hanya berada pad level 1,68%.

Adapun komoditas yang dimaksud Akmal adalah kelompok biji berminyak dan tanaman obat yang bergerak 51,01% secara bulanan dengan kontribusi US$14,04 juta, lalu garam, belerang dan kapur yang melonjak 75,82% atau US$5,24 juta serta kelompok komoditas perikanan dan kelautan yang melaju 26,19% secara bulanan.

Ketiga komoditas tersebut berada pada kelompok empat besar kontributor struktur ekspor Sulsel pada April 2018 bersama dengan komoditas nikel di posisi tertinggi.

Pada sisi yang lebih luas, nilai kumulatif ekspor Sulsel pada periode empat bulan pertama 2018 ini sebesar US$338,86 juta, sedangkan pada tahun sebelumnya berada pada angka US$353,61 juta.

Komposisi komoditas penyumbang terbesar terhadap ekspor Sulsel periode Januari-April 2018 juga tidak mengalami perubahan.

Nikel masih berada pada posisi teratas dengan nilai US$223,1 juta, lalu biji berminyak dan tanaman obat US$36,93 juta, kelompok garam belerang dan kapur US$13,7 juta serta komoditas perikanan sebesar US$10,9 juta sedangkan selebihnya bersumber dari komoditas lainnya.

Sementara itu, importasi Sulsel pada April 2018 bergerak positif hingga 14,08% secara bulanan dengan nilai mencapai US$106,16 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan luar negeri Sulsel pada April 2018 mengalami defisit hingga US$15,82 juta.

Kondisi tidak jauh berbeda jika dilihat secara kumulatif periode Januari-April 2018 yang membentuk defisit hingga US$23,35 juta, lantaran importasi Sulsel pada periode tersebut mencapai US$362,21 juta.

Kinerja impor Sulsel sepanjang empat bulan pertama 2018 itu melejit hingga 13,13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ketua Apindo Sulsel La Tunreng menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh permintaan pasar global pada beberapa komoditas utama yang dikirim dari Sulsel.

"Karena sebenarnya, produksi kita juga tetap terjaga optimal cuma memang karena permintaan dari negara tujuan sedang menurun, serta pula dipengaruhi nilai tukar rupiah yang berfluktuasi," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, kinerja ekspor Sulsel diprediksikan bisa berada pada level positif hingga akhir tahun ini, sembari berharap harga komoditas di tingkat pasar global membaik dibarengi dengan penguatan rupiah.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya