Kalla Mulai Operasikan Smelter Nikel Tahun Ini

Rencananya smelter tersebut akan beroperasi sekitar Agustus - September 2023 dengan pembangunan dua tungku pengoperasian.
Chief Corporate Secretary, Legal and Marketing Officer Kalla, Subhan Djaya Mappaturung (kanan) berbincang dengan Kepala Perwakilan Makassar Bisnis Indonesia Amri Nur Rahmat saat berkunjung ke kantor perwakilan Bisnis Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/2/2023)./Bisnis-Paulus Tandi Bone
Chief Corporate Secretary, Legal and Marketing Officer Kalla, Subhan Djaya Mappaturung (kanan) berbincang dengan Kepala Perwakilan Makassar Bisnis Indonesia Amri Nur Rahmat saat berkunjung ke kantor perwakilan Bisnis Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/2/2023)./Bisnis-Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MAKASSAR — Konglomerasi Kalla Group tahun ini mulai mengoperasikan pabrik pemurnian bijih nikel di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Chief Corporate Secretary, Legal and Marketing Officer Kalla, Subhan Djaya Mappaturung saat berkunjung ke Perwakilan Bisnis Indonesia-Makassar, Selasa (28/2/2023), mengemukakan pihaknya sudah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah pihak potensial guna merealisasikan langkah ekspansif perusahaan untuk menggarap hulu dan hilir potensi pertambangan nikel di Sulawesi secara khusus.

Rencananya smelter tersebut akan beroperasi sekitar Agustus-September 2023 dengan pembangunan dua tungku pengoperasian pada tahun ini. Progres pembangunannya sampai saat ini baru berdiri satu tungku.

Smelter ini juga akan didukung oleh infrastruktur seperti pelabuhan jetty sepanjang 800 meter ke luar bibir pantai dengan kedalaman hingga 7 meter. Diperkirakan pelabuhan ini akan rampung sekitar tiga sampai empat bulan ke depan.

"Sementara pasokan listriknya akan didukung dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Malea milik kami yang berada di Toraja," ungkapnya, Selasa (28/2/2023).

Pembangunan smelter nikel ini sendiri berada di bawah pengerjaan PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Desa Karang-karangan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulsel. Lokasi ini dipilih karena dianggap lebih efektif dan efisien menampung material tambang nikel yang berasal dari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Nilai investasi pabrik ini diketahui sebesar Rp10 triliun dan dibangun di lahan seluas 141 hektare dengan kapasitas mencapai 60.000 ribu ton pertahunnya. Pembangunannya akan terus dilakukan hingga 2030 sampai pengoperasian 14 tungku.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper