Transportasi Laut, Tenaga Pandu di Makassar Perlu Ditambah

Perwira pandu di Makassar saat ini hanya berjumlah empat orang, sementara mereka harus memandu 369 call kunjungan kapal perbulan.
Kapal Pesiar Silver Muse memasuki Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/2/2023)./Bisnis-Paulus Tandi Bone.
Kapal Pesiar Silver Muse memasuki Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/2/2023)./Bisnis-Paulus Tandi Bone.

Bisnis.com, MAKASSAR - Indonesian Maritime Pilots' Association (INAMPA) mendorong optimalisasi perwira pandu di beberapa pelabuhan besar Indonesia dalam upaya memperkuat pembangunan maritim, salah satunya Pelabuhan Makassar.

Kinerja perwira pandu dianggap akan mengurangi risiko kapal karam di balik cuaca yang tak menentu di wilayah ini.

President INAMPA Pasoroan Herman Harianja mengatakan, perwira pandu di Makassar saat ini hanya berjumlah empat orang saja, sementara mereka harus memandu 369 call kunjungan kapal perbulan atau sekitar 12 call kapal perhari.

Setiap perwira pandu di Makassar harus memandu setidaknya tiga kapal perorang perhari. Hal inilah yang dianggap masih kurang ideal dalam pembangunan maritim melalui keselamatan kapal. Oleh karena itu usulan penambahan perwira pandu menjadi sangat penting.

"Empat perwira pandu di Makassar harus memandu setidaknya tiga kapal perhari, untung saja selama ini jaraknya hanya 2 mil laut. Tapi walaupun begitu, opsi penambahan perwira pandu akan lebih baik," ungkapnya di Makassar, Kamis (23/2/2023).

Sementara secara nasional, dia mengatakan jumlah perwira pandu idealnya mencapai 2.000 orang untuk mendukung kunjungan kapal di pelabuhan besar seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Merak, Pelabuhan Batam, termasuk Pelabuhan Makassar.

Saat ini jumlah perwira pandu hanya sekitar 1.700 orang, padahal kunjungan kapal di Indonesia bisa mencapai 4.000 call perbulan. Apalagi mereka berperan penting dalam keamanan dan keselamatan kapal.

"Ketika kapal itu masuk atau keluar pelabuhan, dan ketika masuk atau keluar perairan Indonesia, kapal-kapal ini kan harus dipandu. Jika tidak maka potensinya adalah karam karena tidak tahu kontur perairan tersebut apakah dangkal atau tidak. Kalau karam kan mereka akan keluarkan biaya yang lebih mahal," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper