Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vale Indonesia dan Asa Peradaban Tanpa Emisi di Bumi Nikel

Praktik tambang berkelanjutan berupaya dijalankan perseroan dengan menyentuh seluruh aspek strategis dengan berorientasi mewujudkan nol emisi karbon/dekarbonisasi.
Amri Nur Rahmat
Amri Nur Rahmat - Bisnis.com 18 Januari 2022  |  09:45 WIB
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dioperasikan PT Vale Indonesia Tbk. di Blok Sorowako  -  PTVI
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dioperasikan PT Vale Indonesia Tbk. di Blok Sorowako - PTVI

Bisnis.com, MAKASSAR - Pada suatu kesempatan 2021 lalu, Presiden Joko Widodo mengungkapkan ekspektasinya yang antusias terhadap komoditas nikel menjadi penopang kinerja perdagangan Indonesia di kancah global.

Proyeksi optimistis dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu tidak berlebihan, karena nikel bakal jadi komoditas utama masa depan di tengah upaya dunia menekan emisi karbon dari bahan bakar fosil. Itu seiring dengan tren pengembangan massif kendaraan listrik, di mana nikel merupakan komponen logam paling dominan dalam lithium ion (baterai mobil listrik).

Untuk kedepannya, tentu hal tersebut membuat nikel semakin prospektif apalagi posisi Indonesia merupakan salah satu pemasok utama komoditas tersebut di dunia. Adapun pada 2021 jika merujuk pada data statistik, nilai eksportasi nikel sudah mencapai kisaran US$20 miliar. Secara kumulatif, nilai ekspor tersebut bersumber dari sejumlah perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia dengan sasaran tujuan ekspor ke beberapa negara diantaranya Jepang, China serta negara Eropa lainnya.

Pada sisi lain, ekspektasi besar Kepala Negara terhadap nikel sebagai salah satu komoditas strategis perdagangan Indonesia diperhadapkan pada isu lingkungan yang memang sangat erat dengan industri ekstraktif. Di mana, besar kekhawatiran dampak ekologis dari aktivitas pertambangan menjadi poin paling krusial meski nikel merupakan bagian instrumen penting dalam menekan emisi karbon pada masa mendatang secara global.

Beruntungnya, beberapa perusahaan tambang nikel di Indonesia merespon kekhawatiran tersebut dengan mengaplikasikan konsep pertambangan berkelanjutan sembari menjaga keberlangsungan bisnis simultan dengan pengendalian lingkungan. Salah satunya seperti yang dipraktikkan PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan tambang nikel yang memiliki basis operasional di 'Bumi Nikel' Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Bisa diasumsikan, Vale Indonesia merupakan korporasi tambang Tanah Air yang menjalankan praktik tambang berkelanjutan pada seluruh aspek secara bertahap dan terarah konsekuen. Mulai dari proses eksplorasi hingga pascatambang, aktivitas Vale Indonesia senantiasa berorientasi pada keberlangsungan lingkungan dan sosial ekonomi pada cakupan operasional melalui serangkaian langkah keberlanjutan.

Bahkan, jauh sebelum pemerintah gencar mengkampanyekan energi hijau dalam kerangka konsep pembangunan berkelanjutan, Vale Indonesia pada separuh abad silam sudah mengimplementasikannya rill berkesinambungan. Dengan kata lain, upaya membangun peradaban yang mengarah pada nol emisi karbon sejatinya telah dijalankan oleh Vale Indonesia di Bumi Nikel.

Pada periode dasawarsa pertama sejak awal didirikan tepatnya 1979, Vale Indonesia bahkan sudah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Larona berkapasitas 165 MW guna mendukung operasional perseroan. Lalu pada 1999, dioperasikan lagi PLTA Balambano dengan kapasitas 110 MW dan PLTA Karebbe pada 2011 berkapasitas 90 MW.

Seluruh PLTA dengan total daya mencapai 365 MW itu menjadi representasi dari komitmen keberlanjutan Vale Indonesia, memproduksi nikel dengan penerapan dan pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan termasuk dalam menciptakan energi bagi kebutuhan operasional.

Adapun ketiga PLTA itu memasok tenaga listrik untuk mengoperasikan furnace (tanur peleburan dan pengolahan bijih nikel) di pusat pengolahan (process plant) di Blok Sorowako, Luwu Timur.

Di sisi lain, ketiga PLTA juga berfungsi sebagai bangunan pengendali banjir melalui sistem kontrol di pintu-pintu air tersebut. Hal itu diketahui bila curah hujan tinggi, debit air sungai dapat meluap dan dapat berdampak pada pemilik area pertanian di daerah hulu.

Selain itu, perseroan juga memiliki sejumlah inisiatif transisi energi untuk mengurangi emisi karbon sebesar 33% pada 2030 mendatang. Mulai dari penggunaan electric vehicle (EV) dan light vehicle (LV) hingga penggantian bahan bakar pada proses pengolahan nikel dari batu bara menjadi gas alam cair (LNG), serta penggunaan biomass sebagai reductant di tanur reduksi (reduction kiln).

Transisi Energi

Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy mengemukakan tranformasi sampai pada upaya transisi energi menjadi hal fundamental bagi industri tambang agar menciptakan masa depan yang lebih hijau. Itu juga supaya bisa mewujudkan kepercayaan, tumbuh lebih kuat, dan mencapai hasil yang berkelanjutan.

"Kita telah melaksanakan pengurangan emisi karbon karena hal ini menjadi bagian solusi untuk perubahan iklim. Mengurangi emisi karbon terkait dengan kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya, penggunaan produk kami,” katanya, belum lama ini.

Selain di Sorowako, upaya serupa juga diaplikasikan pada pabrik baru perseroan di area Bahodopi, Sulawesi Tengah, yang akan menggunakan PLTG atau energi gas bumi.

Pabrik tersebut akan menjadi pabrik nikel dengan emisi karbon per ton nikel terendah kedua setelah Sorowako yang menggunakan PLTA. Menyusul kemudian pada proyek Pomalaa, di Sulawesi Tenggara juga akan menerapkan operasional rendah karbon emisi.

“Vale Indonesia sangat fokus pada sektor pertambangan dan processing nikel, meski demikian tentunya operasional yang ramah lingkungan menjadi perhatian utama,” ungkap Febriany.

Di kesempatan berbeda Ketua Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia Bouman T. Sitomorang mengatakan penggunaan energi baru terbarukan menjadi elemen dekarbonisasi dengan mereduksi sumber energi dari fosil. Bagi industri eksetrasi mineral, lanjut dia, menjadi tantangan tersendiri karena biaya operasional terbesar adalah energi dengan porsi 40% hingga 60%.

"Beribicara perihal dekarbonisasi di industri mineral, mayoritas menggunakanbahan baku fosil, PLTU. Di Indonesia sendiri, untuk ekstraksi mineral hanya Vale sejauh ini yang menggunakan PLTA," papar Bouman.

Sebagai informasi, PLTA di Vale Indonesia tercatat memiliki kontribusi positif untuk operasional perseroan dan pengurangan emisi karbon hingga 1,09 juta ton CO2 per tahun.

Selanjutnya tak hanya pada penerapan operasional ramah lingkungan, Vale Indonesia juga terus melakukan reklamasi pasca tambang serta pembibitan secara terpadu sebagai bentuk manifestasi dari komitmen terhadap perubahan iklim seperti yang tertuang dalam Paris Agreement.

Untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi pascatambang, perseroan memiliki fasilitas pembibitan pohon (nursery) seluas 2,5 ha dengan kapasitas produksi per tahun mencapai 700.000 bibit berbagai jenis tanaman maupun pohon asli setempat dan endemik.

Adapun pelaksanaan reklamasi pascatambang dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga, dan memperhatikan UU No4/2009 tentang Penambangan Mineral dan Batubara. 

Pada 2020 lalu, luas lahan tambang yang direklamasi mencapai 176,24 hektare atau secara kumulatif luas lahan reklamasi pascatambang mencapai 3.012,44 hektare yang sudah direhabilitasi dikembalikan seperti awal peruntukannya. 

Sejalan dengan itu, untuk mengendalikan limbah cair di area tambang dan pabrik pengolahan, Vale Indonesia telah membangun lebih dari 100 pond (kolam pengendapan) di Blok Sorowako dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air limbah (Pakalangkai Waste Water Treatment) dan Lamella Gravity Settler (LGS) yang beroperasi sejak 2015. 

Vale Indonesia tercatat sebagai perusahaan pertambangan pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi LGS yang biasanya untuk pengolahan air minum. Selain itu, untuk pengendalian emisi debu dan partikulat di pabrik pengolahan nikel, perusahaan mengoperasikan EsP (Electrostatic Precipitator) dan Bag House (fasilitas penangkap debu dan partikulat) di tanur pelebur dan tanur pereduksi.

Tak hanya disitu, perseoran juga melakukan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan program penanaman tanaman jenis kayu-kayuan dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di luar wilayah Kontrak Karya Vale Indonesia. Orientasinya guna memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi DAS sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

Sejauh ini rehabilitasi DAS dilakukan di 13 kabupaten dan 51 desa dengan luas 10.000 hektare tersebar di Luwu Timur seluas 1.490 ha, Luwu dan Luwu Utara seluas 1.996 ha, Tana Toraja seluas 1.190 ha, Toraja Utara, Enrekang dan Pinrang seluas 979 ha, Bone seluas 1.735 ha, Soppeng dan Gowa seluas 1.135 ha, Barru, Maros, Gowa dan Takalar seluas 1.475 ha.

Lingkungan dan Sosial Ekonomi

Kepala Bank Indonesia Provinsi Sulsel Causa Iman Karana memandang segala upaya yang diaplikasikan Vale Indonesia berjalan secara sangat simultan pada sisi produksi, keberlanjutan lingkungan serta sosial ekonomi pada wilayah operasional dan sekitarnya.

"Musti diakui, apa yang dilakukan Vale bisa dikatakan sistematis dan progresif. Rehabilitasi lahan bekas tambang hingga program sustainable mining [tambang berkelanjutan] berjalan simultan dan agenda pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Ini sudah saya saksikan langsung," urainya.

Dia melanjutkan, konsistensi menjadi poin krusial dalam menjalankan praktik tambang berkelanjutan agar seluruh lini bisa tersentuh optimal. Hal tersebut dinilai sangat penting agar pertumbuhan bisnis sejalan dengan penanganan lingkungan dalam konsep mitigasi perubahan iklim.

“Vale Indonesia merupakan salah satu perusahaan pertambangan yang juga telah mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini sejalan dengan concern dunia untuk mendorong green economy, termasuk di dalamnya green mining,” papar Causa.

Dia melanjutkan, urgensi implementasi green economy semakin meningkat sebagai upaya membatasi emisi karbon dan pemanfaatan energi baru terbarukan. Pada titik tersebut, sederet ikhtiar yang diaplikasikan dan diimplementasikan oleh Vale Indonesia secara eksplisit telah menjadi penguat asa bahwasanya peradaban tanpa emisi adalah keniscayaan di 'Bumi Nikel'.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emisi karbon
Editor : Amri Nur Rahmat

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top