Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menguatkan Ekosistem Ramah Lingkungan di Kota Makassar dengan BBK

Penggunaan BBM berkualitas (BBK) di Kota Makassar secara tidak langsung ikut menguatkan ekosistem ramah lingkungan dan peduli atas kualitas udara perkotaan.
Amri Nur Rahmat
Amri Nur Rahmat - Bisnis.com 15 November 2021  |  09:42 WIB
Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU  - JIBI
Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU - JIBI

Bisnis.com, MAKASSAR - Sudah hampir 7 bulan terakhir, Rusli seorang pengemudi becak motor di Kota Makassar rutin menggunakan gasoline jenis Pertalite sebagai bahan bakar tunggangannya. Pria berusia 31 tahun yang saban hari menunggu penumpang di bilangan Alauddin Makassar tersebut mengakui penggunaan Pertalite sebagai bahan bakar dilakukan secara bertahap.

Dia menceritakan, semenjak memulai aktivitas sebagai pengemudi bentor (becak motor ala Makassar) pada medio akhir 2019 silam dirinya dulu selalu memprioritaskan Premium sebagai bahan bakar utama. Tentu saja, pertimbangan harga yang murah menjadi aspek utama bagi Rusli sehingga mengandalkan gasoline berkadar oktan 88 tersebut.

Namun kondisi tersebut mulai berbalik saat memasuki 2021 ini, di mana Rusli pada suatu waktu tanpa terencana harus membeli gasoline jenis Pertalite untuk bentornya lantaran stok Premium habis di SPBU yang disinggahinya. "Mau tidak mau waktu itu saya harus isinya Pertalite, karena Premium lagi kosong. Apalagi saya ada lurang [penumpang], terpaksa saya isinya Pertalite Rp15.000," tutur Rusli saat berbincang dengan Bisnis, awal November 2021.

Selepas itu, dia secara rutin memeriksa isi tanki bentor nya karena khawatir Pertalite yang dibelinya tidak bisa mendukung aktivitasnya dalam beberapa hari kedepan. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, karena dalam pemikirian Rusli bahwa volume Pertalite di tangki bentornya menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan jika membeli Premium.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kekhawatiran tersebut menjadi tidak terbukti dan bahkan dia mengaku tidak mengisi bahan bakar sampai hampir seminggu padahal aktivitas menarik bentor berjalan seperti sebelumnya. Selain itu, Rusli merasakan tarikan gas dari mesin bentornya menjadi sedikit lebih enteng setelah terpaksa mengisi Pertalite.

Meski demikian, dia mengakui jika tidak lantas langsung beralih sepenuhnya dari Premium ke Pertalite karena menyesuaikan dengan pendapatan yang diperolehnya. Sehingga bahan bakar yang digunakannya kadang tercampur antara Premium dan Pertalite karena pola pembelian yang dilakukannya disesuaikan dengan budget.

"Saya mulai tidak campur Premium dan Pertalite waktu bulan empat [April 2021], karena saya dapat info dari orang-orang kalau harga Pertalite sudah sama dengan harga Premium. Sejak itu saya selalunya isi bensin Pertalite, sudah tidak pernah Premium sampai sekarang," tutur Rusli.

Menurut dia, keputusan tersebut dikuatkan dengan sederet manfaat yang dirasakannya secara langsung, mulai dari tarikan mesin yang menjadi lebih enteng hingga konsumsi bahan bakar yang relatif lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan Premium. "Yang paling kentara, waktu Premium saya pakai, ini knalpot beberapa kali keluarkan asap dan buntu-buntu, tapi setelah Pertalite dan sesekali saya isi Pertamax jadi lebih lancar," papar Rusli yang bentornya merupakan modifikasi dari sepeda motor Honda jenis Supra emisi tahun sekitar 2000.

Secara tidak langsung, apa yang dilakukan oleh Rusli tersebut menjadi bentuk partisipasi aktif dalam menguatkan ekosistem penggunan bahan bakar berkualitas yang simultan menjaga kualitas udara perkotaan dari emisi gas buang. Sebagai informasi, Premium memiliki kadar oktan 88 dengan resiko gas buang lebih besar dibandingkan dengan Pertalite dengan Research Oktan Number (RON) 90.

Selain Pertalite, pengguna kendaraan juga sebenarnya memiliki pilihan bahan bakar berkualitas dengan kadar oktan yang tinggi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo untuk gasoline, serta varian Pertamina Dex dan Dexlite untuk solar dengan kandungan CN di atas 51.

Untuk di Kota Makassar sendiri, upaya massif mendorong pengguna kendaraan untuk beralih ke bahan bakar berkualitas telah dilakukan pada medio Maret 2021 silam melalui program langit biru (PLB) yang diinisiasi Pertamina dengan dukungan otoritas pemerintah daerah setempat. Pada dua bulan pelaksanaan PLB di Makassar, efektif mereduksi porsi Premium yang menukik tajam dengan persentase 11,7% sedangkan selebihnya adalah Pertalite dan Pertamax Series.

Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Makassar Syafri Arieska menilai, kecenderungan masyarakat beralih ke bahan bakar yang ramah lingkungan itu lebih disebabkan karena faktor pengalaman terhadap penggunaan Pertalite ataupun jenis bahan bakar lainnya yang berklasifikasi 'hijau'.

"Itu karena pengalaman penggunaannya atau setelah merasakan manfaatnya, sehingga beralih [ke Pertalite/Pertamax Series] meskipun dari sisi harga sedikit lebih tinggi dari Premium. Meski memang beberapa masih mempertimbangkan harga, padahal jika diperhatikan pola pembeliannya itu cenderung fokus pada nominal rupiahnya bukan berapa liternya," papar dia.

Syafri menjelaskan, pola yang dimaksud adalah pada saat pembelian bahan bakar di SPBU tidak menyebutkan volume tetapi lebih berfokus pada nominal yang akan dibeli. "Misalkan saat membeli BBM, kita hanya menyebutkan Rp20.000 ke petugas SPBU bukan berapa liter yang kita beli. Itu yang saya maksud, bahwa bukan harga yang selalu menjadi acuan, tetapi manfaat dan durasinya sebagai pertimbangan. Karena selisih harga juga tidak terlalu signifikan, Premium dan Pertalite misalnya," kata Syafri.

Meski begitu, lanjutnya, pembelian ritel bahan bakar merupakan otoritas penuh konsumen dalam menentukan jenis gasoline ataupun solar yang dikehendaki, namun dia menyarankan aspek manfaat jangka panjang bisa menjadi titik perhatian dalam memilih jenis bahan bakar yang berkualitas.

Pada kesempatan berbeda, Unit Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional Sulawesi, Laode Syarifuddin Mursali mengemukakan tren konsumsi bahan bakar berkualitas (BBK) di Kota Makassar semenjak dinjeksi dengan program langit biru mencatatkan posisi yang statis. Konsumsi BBK gasoline bekadar oktan 90 ke atas menjadi primadona dengan porsi 88,1% sedangkan Premium stagnan di level 11,9% per Oktober 2021.

Padahal pada periode tahun sebelumnya, Premium mendominasi konsumsi bahan bakar gasoline di Makassar dengan komposisi mencapai 70,5% sedangkan BBK jenis Pertalite dan Pertamax Series masih 29,5%. Adapun untuk lingkup Sulawesi Selatan per Oktober 2021, proporsi BBK berkualitas jauh lebih mendominasi dengan porsi 93,8% padahal sepanjang 2020 lalu hanya berada pada level 29,9%.

"Kita tentunya berharap, ekosistem melek bahan bakar berkualitas bisa terus bertahan di Makassar maupun Sulsel serta Sulawesi secara regional. Semakin banyak yang menggunakan BBM jenis ini, implikasinya juga positif bagi kita semua, lingkungan maupun secara ekonomi," pungkasnya.

Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan 'Danny' Pomanto mengemukakan PLB sebuah representasi dari komitmen nyata dalam menjaga lingkungan sekaligus udara yang baik melalui menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.

“Menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua menjaga kualitas udara agar sehat. Salah satunya yaitu bijak menggunakan bahan bakar minyak untuk kendaraan kita. Nah saat ini Pertamina dengan programnya langit biru tentu sedikit banyak akan sangat membantu mengurangi polusi udara,”ucap Danny.

Untuk mendukung program tersebut, kata Danny rencananya dirinya akan mengeluarkan surat edaran untuk kendaraan dinas pemerintah kota supaya dapat menggunakan BBM ramah lingkungan.

“Kedepannya, kendaraan dinas pemerintah kota dan ASN agar menggunakan BBM ramah lingkungan untuk menjaga langit biru Makassar demi kualitas dan kesehatan udara,” paparnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ramah lingkungan
Editor : Amri Nur Rahmat

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top