Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kala Proyek Kelistrikan Jadi Penguat Asa Ekonomi di Tenggara

Kelistrikan di Sulawesi Tenggara dahulu kerap jadi pengadang aktivitas ekonomi dan investasi, namun perlahan kondisi tersebut mulai terurai dan teratasi.
Amri Nur Rahmat
Amri Nur Rahmat - Bisnis.com 29 Oktober 2021  |  11:15 WIB
Teknisi dari PLN UIP Sulawesi sedang beraktivitas pada proyek infrastruktur ketenagalistrikan di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.  -  IST
Teknisi dari PLN UIP Sulawesi sedang beraktivitas pada proyek infrastruktur ketenagalistrikan di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. - IST

Bisnis.com, KENDARI - Sudah hampir dua dekade terakhir, persoalan kelistrikan menjadi poin fundamental di Kabupaten Konawe Selatan dalam mengatrol kinerja sektor-sektor perekonomian agar bisa atraktif. Kendati secara geografis, Konawe Selatan berbatasan langsung dengan ibu kota Sulawesi Tenggara, Kota Kendari, tak lantas membuat daerah tersebut mendapatkan pasokan energi listrik yang stabil dan andal.

Mulai dari kompleksnya bentang alam di Konawe Selatan (Konsel) hingga permasalahan akses menjadi titik pengadang sistem kelistrikan belum bisa optimal dinikmati inklusif di wilayah Konsel. Kondisi akses kelistrikan yang relatif terbatas itu diakui oleh Bupati Konawe Selatan Surunuddin Dangga selama memimpin daerah hasil pemekaran dari Kendari tersebut.

Dia menceritakan, awal kepimpinannya sebagai Bupati Konawe Selatan`sejak medio 2016 silam sudah diperhadapkan pada situasi yang sulit dalam meyakinkan investor untuk menanamkan modalnya di Konsel. Itu lantaran ketersediaan pasokan listrik masih sangat terbatas, serta jaringan kelistrikan yang masih belum bisa terdistribusi secara maksimal dengan tegangan yang sesuai.

Itu membuat arah penanaman modal hanya banyak tertumpu pada kegiatan ekplorasi hingga ekspoitasi sumber daya alam yang dinilainya kurang memberikan efek berganda signifikan pada seluruh sektor. Sehingga terjadi ketimpangan komposisi sektoral yang tidak mengalami pergerakan simultan ke level optimistis.

"Awal saya menjabat, keluhan yang kerap saya terima dari masyarakat maupun pengusaha dan calon investor itu adalah soal listrik. Dayanya naik turun, jaringan listrik juga belum bisa maksimal ke pelosok-pelosok dan lainnya. Jadi bisa dibayangkan, untuk masyarakat saja belum maksimal, bagaimana kita bisa menjamin ke industri-industri kalau mau masuk ke Konsel," ungkapnya, belum lama ini.

Meski begitu, pihaknya terus berupaya melakukan langkah-langkah strategis agar akses kelistrikan bisa mengaliri wilayah Konsel secara maksimal, mulai dari membuka akses infrastruktur hingga jalinan kesepahaman dengan PT PLN (Persero) agar persoalan kelistrikan bisa teratasi. Surunuddin berkeyakinan, gerak ekonomi Konsel bisa lebih begairah dan atraktif jika permasalahan energi listrik bisa teratasi.

Bupati Konawe Selatan Surunuddin Dangga (kiri)

Menurut dia, pembukaan dan pengembangan akses infastruktur dasar yang dibarengi dengan perluasan jangkauan kelistrikan merupakan stimulus positif terhadap sendi perekononomian semua skala. "Tidak cuma bagi industri-industri, tetapi jika sudah ada jaminan pasokan kelistrikan, tentu usaha-usaha yang skalanya UMKM bisa ikut menikmati. Muaranya adalah ekonomi kita tergerak," tutur Surunuddin.

Adapun gambaran perekonomian Konawe Selatan, pada 2020 lalu laju pertumbuhan ekonomi yang memiliki luas 4.514,2 km2 itu terkontraksi 2,22% yang juga dipicu konsekuensi dari pandemi Covid-19. Secara eksplisit, ekonomi Konsel masih bergantung pada sektor pertanian dengan komposisi 28,39%, kemudian pertambangan dengan struktur 21,76%. Adapun untuk sektor industri pengolahan hanya bisa berkontribusi 2,53%.

Surunuddin mengemukakan, perencanaan strategis pemerintah kabupaten untuk jangka panjang akan banyak berfokus pada hilirisasi sektor-sektor potensial Konsel yang memiliki sumber daya alam yang beragam. Hal itu akan dilakukan dengan menajalankan program diversifikasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, yang bersifat kolaboratif dengan konsep hilirisasi.

"Pada prinsipnya, kami ini akan berorientasi pada hilirisasi SDA yang dimiliki Konsel. Namun dijalankan secara berimbang dengan pemberdayaan masyarakat secara aktif, di mana pasokan-pasokan komoditas akan bersumber dari pertanian atau perkebunan rakyat kepada industri, sehingga tercipta integrasi," paparnya.

Pada titik tersebut, menurut Surunuddin, salah satu komponen paling penting adalah ketersediaan energi kelistrikan yang memadai, agar mampu mengakomodir aktivitas-aktivitas utama pada perekonomian. "Kami punya potensi yang beragam, yakni pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan dan sektor lainnya. Dan untuk saat ini, kami siap memfasilitasi investor jika ingin masuk ikut membangun Konsel," tegasnya.

Kesiapan yang diutarakan oleh Bupati Konsel itu tidak lepas dari jaminan sistem kelistrikan yang telah direalisasikan oleh PT PLN (Persero), di mana pada Oktober 2021 ini telah merampungkan proyek strategis infrastruktur ketenagalistrikan di Konawe Selatan. Adapun yang dimaksud adalah proyek tegangan tinggi transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilo Volt (kV) Kendari-Andoolo dan Gardu Induk (GI) 150 kV Andoolo berkapasitas 30 MVA.

"Kami berkeyakinan, adanya GI dan SUTT ini menjadi titik bersejarah bagi Konsel, yang kami sebutnya adalah Merdeka Listrik. Dan tentu saja, ini akan menjadi titik balik pertumbuhan Konsel, karena satu pokok permasalahan akan teratasi, yakni kelistrikan. Sehingga untuk investor, silahkan datang ke Konsel karena kami sudah sangat siap, serta bagi masyarakat Konsel ini adalah kemerdekaan kita atas listrik, sehingga mari memanfaatkannya untuk kepentingan bersama," ucap Surunuddin.

Keyakinan dari sang Bupati Konsel tentu tidak berlebihan, mengingat dengan adanya infrastruktur kelistrikan yakni GI 150 kV Andoolo dan SUTT 150 kV Kendari Andoolo tentu akan lebih menguatkan pasokan energi listrik di wilayah tersebut. Kapasitas terpasang itu secara teknis merupakan lompatan signifikan, mengingat selama ini pasokan listrik untuk wilayah Konsel dan sekitarnya hanya menggunakan jaringan distribusi 20 kV dari pusat beban di Kendari yang berjarak ratusan kilometer.

Istimewanya, operasional perdana dari Proyek Infastrutkur Ketenagalistrikan (PIK) tersebut yang ditandai dengan pemberian tegangan perdana (energize) pada GI Anddolo dan SUTT Kendari-Andoolo bertepatan dengan momentum hari listrik nasional (HLN) ke 76 yang jatuh pada 27 Oktober 2021. "Sebuah kebanggan bagi kami, masyarakat Konsel atas hal tersebut [energize GI Andoolo dan SUTT Kendari-Andoolo]. Tentunya, sinergitas ini tidak hanya sebatas pada hal ini saja, tetapi berkelanjutan untuk kemajuan dan kemandirian Konawes Selatan secara khusus," papar Surunuddin.

Pada kesempatan berbeda, General Manager PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi Defiar Anis mengatakakan realisasi PIK yang ada di Konsel tersebut diharapkan mampu menjadi penopang aktivitas perekonomian Konawe Selatan secara keseluruhan. Tidak terbatas pada aktivitas keseharian, tetapi juga bisa menjadi pemantik aktivitas industri di Konawe Selatan agar menjadi lebih eksponensial.

"Ini bentuk komitmen kami menyediakan layanan listrik yang andal bagi pelanggan seluruh segmentasi di Tenggara secara khusus, dan untuk skala lebih luas ini menjadi bagian dari langkah menyatukan sistem kelistikan di Sulawesi yang diamanatkan pemerintah kepada kami," urainya.

Sebagai informasi, proyek tegangan tinggi SUTT 150 kV Kendari Andoolo memiliki bentangan sepanjang 150 kilometer sirkit (kms) yang terdiri dari 226 menara yang mendistrubusikan daya ke GI 150 kV Andoolo, Konawe Selatan. Adapun tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kedua PIK tersebut mencapai 71% untuk SUTT sedangkan GI mencapai 69%.

Defiar mengemukakan, keberhasilan pembangunan energize PIK tersebut merupakan cerminan dari sinergi dana kolaborasi pemerintah daerah dan PLN beserta seluruh pihak terkait yang memiliki visi elektrifikasi berkeadilan. Untuk kedepannya, PLN UIP Suawesi juga merencanakan mengkoneksikan Andoolo hingga ke Kasipute, Kabupaten Bombana, dengan kapasitas tegangan yang juga sebesar 150 kV.

Sejauh ini, tahapan pembangunan SUTT 150 kV Andoolo-Kasipute bahkan sudah hampir rampung dari perencanaan 150 menara dengan bentangan transmisi sepanjang 123 kms, termasuk pola GI Kasipute yang juga memiliki kapasitas setara dengan GI Andoolo. "Kita targetkan SUTT Andoolo-Kasipute dan GI Kasipute juga sudah energize di Desember 2021 nanti. Sehingga keandalan listrik yang diterima pelanggan di Tenggara ini makin maksimal," katanya.

Secara umum, terealisasinya proyek-proyek infrastruktur ketenagalistrikan tersebut merupakan manifestasi nyata dari upaya elektrifikasi yang tidak hanya berorientasi pada menerangi tetapi juga menopang kebangkitan ekonomi Sulawesi dan Indonesia secara luas dari dampak pandemi Covid-19.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik
Editor : Amri Nur Rahmat

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top