Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Insinerator Pengolahan Limbah B3 Sulsel Jadi Percontohan di KTI

Proyek insenerator pengolahan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) menjadi proyek percontohan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Andini Ristyanigrum
Andini Ristyanigrum - Bisnis.com 17 Februari 2020  |  16:33 WIB
Instalasi pengolahan air limbah - Istimewa
Instalasi pengolahan air limbah - Istimewa

Bisnis.com, MAKASSAR - Proyek insenerator pengolahan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) menjadi proyek percontohan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Pemerintah pusat tengah mendorong sejumlah proyek prioritas strategis. Tercatay ada 41 proyek yang ditandatangani Presiden Joko Widodo dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Dalam RPJMN tersebut, Sulsel mendapat jatah beberapa proyek prioritas strategis yang bakal dibangun. Salah satunya pembangunan fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun atau (B3) atau insinerator pebgolahan limbah B3.

Sulsel sendiri telah memiliki insinerator sejak akhir 2019 lalu. Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Andi Hasdullah menjelaskan insenerator tersebut bahkan menjadi yang pertama di skala regional kawasan timur Indonesia (KTI).

"Yang mulai dirancang saat ini yaitu fasilitas pembuangan hasil pengolahan limbah tersebut. Itu yang belum kita miliki," jelas Hasdullah, Senin (17/2/2020).

Adapun insinerator pengolahan limbah B3 Sulsel berkapasitas 100 kilogram per jam atau setara dengan 2,4 ton per hari. Biasanya, insinerator tersebut kata Hasdullah mengolah limbah B3 dari rumah sakit. Limbah B3 tersebut kemudian dibakar.

Sementara itu, untuk pembuangan hasil pengolahan limbah B3, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup akan melakukan survei terkait lokasi yang akan dipilih. Terdapat empat daerah yang rencananya akan disurvei sebagai lahan penimbunan hasil pengolahan limbah B3.

"Sementara yang kami survei itu Pangkep, Gowa, Bantaeng dan Barru. Dari hasil survei yang paling proper itu Barru," urai Hasdullah.

Ia menjelaskan, secara teknis ada beberapa variabel sehingga Barru cukup layak untuk pembangunan fasilitas pengelolaan limbah B3 ini, yaitu harus jauh dari pemukiman warga, serta beberapa kriteria lainnya untuk membangun ini.

Pembangunan fasilitas pembuangan hasil pengolahan limbah B3 ini sudah mendapat sinyal dari Bappenas. Beberapa waktu lalu Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulsel telah mengambil sejumlah data untuk melengkapi rencana proyek kedua pengelolaan limbah ini setelah sebelumnya berada di Jawa Barat.

"Kami berharap ini bisa cepat ditindaklanjuti, karena telah masuk dalam proyek prioritas. Pengelolaan limbah B3 ini memang sangat diperlukan, karena produksinya yang cukup banyak," ungkapnya.

Insinerator pengolahan limbah B3 di Sulsel telah menjadi percontohan di KTI. Sebab sebelumnya, insinerator baru dibangun di Jawa Barat oleh PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI), perusahaan pengolah limbah di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Terkait estimasi waktu dimulainya proyek tersebut, Hasdullah mengaku akan mengurus visibility study terlebih dulu kemudian masuk pada tahap amdal dan administrasi. Ia mengatakan, proses itu membutuhkan waktu sekitar dua tahunan dari 2020-2021.

"Pembangunan ditarget 2022 untuk mulai dikerjakan, anggaran ini sebenarnya belum dihitung nanti terlihat setelah semuanya detail engineering design (DED) selesai, tapi saya dengar Rp1 triliun," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makassar Limbah B3
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top