OJK : Likuiditas Perbankan di Sulut Aman

Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara menilai secara umum kondisi likuiditas industri perbankan di Bumi Nyiur Melambai masih aman.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 29 November 2019  |  21:41 WIB
OJK : Likuiditas Perbankan di Sulut Aman
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi SulutgomalutSlametWibowo memberikan pemaparan kepada media di Danau Linow, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Jumat (29/11/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, TOMOHON - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara menilai secara umum kondisi likuiditas industri perbankan di Bumi Nyiur Melambai masih aman.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara (Sulutgomalut), total aset perbankan di Sulawesi Utara (Sulut) senilai Rp61,83 triliun per Oktober 2019. Posisi itu tumbuh 13,23 persen dibandingkan dengan Rp54,61 triliun pada akhir tahun lalu.

Selanjutnya, total penyaluran kredit tercatat senilai Rp39,41 triliun per Oktober 2019. Jumlah itu naik 6,83 persen dari Rp36,89 triliun per Desember 2018.

Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp26,56 triliun per Oktober 2019. Dengan demikian, loan to deposit ratio (LDR) perbankan di Sulut sebesar 148,37 persen pada Oktober 2019 atau turun dari posisi 152,53 persen per akhir Desember 2018.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulutgomalut Slamet Wibowo mengatakan kondisi likuiditas perbankan di Sulut masih dalam kondisi baik. Menurutnya, posisi LDR perbankan pada Oktober 2019 tidak menjadi masalah.

“Justru itu bagus karena orang lain percaya dengan Sulut dan membawa dana dari luar ke sini,” jelasnya, Jumat (29/11/2019).

Slamet menyebut salah satu indikasi kesehatan perbankan di Sulut tercermin dari LDR yang dimiliki PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo atau Bank Sulutgo (BSG). Menurutnya, LDR perseroan masih di bawah 140 persen.

“Kalau BSG LDR-nya di atas 140 persen itu kami khawatir tetapi BSG masih dibawah itu. Artinya, likuditas aman,” jelas Slamet.

Untuk bank-bank yang membuka cabang di Sulut, Slamet menilai wajar LDR terbilang tinggi. Pasalnya, mereka memiliki keterbatasan DPK dibandingkan dengan permintaan kredit yang lebih besar.

Akan tetapi, lanjut Slamet, kantor cabang yang berada di Sulut biasanya akan meminta dana dari kantor lain atau kantor pusat. Dengan demikian, dampak likuiditas tidak menjadi masalah bagi perbankan yang cabangnya berada di Bumi Nyiur Melamba.

“Di pusat tidak menghambat karena cabang juga bagian dari pusat. Kalau di pusat LDR-nya di atas 100 persen sudah kami semprit,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ojk, sulut, likuiditas bank

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top