Pemkot Makassar Diminta Ambil Langkah Strategis di TPA Antang

Kebakaran besar yang terjadi di TPA Antang pada September lalu menjadi keprihatinan semua pihak.
Andini Ristyaningrum
Andini Ristyaningrum - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  18:22 WIB
Pemkot Makassar Diminta Ambil Langkah Strategis di TPA Antang
Pemulung mengangkat sampah yang bisa didaur ulang di TPA Antang Makassar. - Antara Yusran Uccang

Bisnis.com, MAKASSAR — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan rekomendasi kepada Pemkot Makassar agar mengambil langkah terpadu dalam pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati menyatakan kebakaran besar yang terjadi di TPA Antang pada September lalu menjadi keprihatinan semua pihak. Apalagi asap hasil kebakaran yang baru bisa dipadamkan selama dua hari itu mengandung zat beracun.

"Untuk pengelolaan sampah di Makassar sudah punya peluang membuat TPA regional, seperti yang dibangun di Bali dan Sulawesi Utara," ungkap Vivien pada sosialisasi pengelolaan limbah B3 dan non B3 di Makassar, Rabu (9/10/2019).

Selain itu, KLHK juga merekomendasikan kepada Pemkot Makassar untuk membangun sistem controlled landfill. Di mana sistem ini menerapkan proses sampah yang datang setiap hari di TPA diratakan dan dipadatkan dengan alat berat. Sampah tersebut dipadatkan menjadi sebuah sel.

Setelahnya sampah yang telah dipadatkan itu dilapisi dengan tanah setiap lima atau seminggu sekali. Metode itu dilakukan untuk mengurangi gas metan yang terkandung pada sampah. Selain itu, dalam penerapannya harus dibuat pula saluran drainase untuk mengendalikan air hujan, saluran pengumpul air lindi dan instalasi pengolahannya, pos pengendaluan operasional, dan fasilitas pengendalian gas metan.

Metode itu, sebenarnya telah diujicobakan di TPA Antang pada 2018 lalu. Hanya saja, lahan di kawasan itu tidak lagi mampu menampung volume sampah yang setiap harinya mencapai 1 ton sampah. Sementara, TPA Antang hanya berkapasitas 800 hingga 4.000 kubik sampah per hari.

"Permasalahan ini memang menjadi tanggung jawab pemerintah setempat. Tapi jika berbicara soal sampah ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan," ungkap Vivien.

Pertama lanjut dia, pendekatan melalui gerakan pengurangan. Gerakan pengurangan sampah di Makassar kata Vivien sudah mulai menunjukkan progres yang positif. Misalnya saja, masyarakat yang mulai mengurangi penggunaan kantong kresek. Selain itu gerakan penggunaan botol air minum atau tumbler yang sudah cukup masif.

Kedua dengan pendekatan ekonomi, misalnya dengan menghadirkan bank sampah. Pemanfaatan di bank sampah di Makassar kata Vivien masih perlu ditingkatkan lagi. Apalagi produksi sampah rumah tangga yang semestinya bisa diolah sebelum sampai ke TPA.

"Bicara soal sampah itu kita bahas dari hulu ke hilir. Misalkan dari rumah, sampahnya itu bisa diolah. Jadi, yang dibuang ke TPA itu sudah berupa residu. Tapi melihat kondisi sampah di TPA seperti itu, berarti masih banyak sampah yang memang tidak dikelola dengan baik," jelasnya.

TPA Antang sendiri masih mengelola sampah dengan sistem open dumping. Di pembuangan sampah dilakukan dengan cara menumpuk di lahan terbuka. Metode ini kata Vivien memang merupakan metode sederhana untuk pembuangan sampah. Hanya saja bisa menimbulkan berbagai masalah. Misalnya saja kontaminasi air tanah oleh air lindi, bau, sampah yang berserakan, hingga rawannya terjadi longsor. (k36)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
makassar

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top