Pemprov Sulut Kawal Pasokan Pasokan Barito Jelang Akhir Tahun

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara meningkatkan pengawasan ketersedian pasokan bawang, rica atau cabai rawit, dan tomat, menjelang akhir tahun sejalan dengan upaya pengendalian inflasi di Bumi Nyiur Melambai.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  17:39 WIB
Pemprov Sulut Kawal Pasokan Pasokan Barito Jelang Akhir Tahun
Pedagang membersihkan bawang putih. - ANTARA/Arnas Padda

Bisnis.com, MANADO— Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara meningkatkan pengawasan ketersedian pasokan bawang, rica atau cabai rawit, dan tomat, menjelang akhir tahun sejalan dengan upaya pengendalian inflasi di Bumi Nyiur Melambai.

Kepala Bagian Perekonomian Biro Ekonomi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Sonny Runtuwene mengungkapkan pihaknya memiliki sejumlah langkah untuk menjaga inflasi memasuki kuartal IV/2019. Salah satunya dengan menjaga ketersediaan pasokan bahan pokok yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Sonny menyebut memantau ketersediaan bahan pokok melalui Dinas Pertanian dan Kelompok Tani (Poktan). Komoditas yang jadi perhatian karena kerap memicu inflasi yakni bawang, rica atau cabai rawit, dan tomat (Barito).

“Kami akan menggelar high level meeting untuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah [TPID] Provinsi Sulut yang bertujuan mengkonsolidasikan dan memastikan ketersediaan bahan pokok,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (1/10/2019).

Selain ketersediaan pasokan, dia menyebut pemerintah juga memantau distribusi bahan pokok. Tujuannya, untuk memastikan proses tersebut tidak bermasalah.

“Jangan sampai di tahapan ini justru dipermainkan pedagang,” imbuhnya.

Sonny mengatakan target tingkat inflasi Sulut 3,5%±1%  hingga akhir 2019. Pihaknya menyatakan masih berupaya menjaga tingkat inflasi di bawah 3% pengujung tahun ini.

Berdasarkan Laporan Perekonomian Sulawesi Utara Agustus 2019, yang dirilis oleh Bank Indonesia, prospek inflasi indeks harga konsumen (IHK) Sulut diperkirakan akan mengalami tekanan inflasi yang kuat pada kuartal IV/2019. Akan tetapi, untuk keseluruhan tahun ini, inflasi diperkirakan masih berada dalam rentang sasaran inflasi 3,5%±1%.

Bank Indonesia menggarisbawahi beberapa faktor risiko. Salah satunya terkait pasokan komoditas barito.

Seperti diketahui, inflasi Sulut sebesar 5,10% pada kuartal II/2019. Posisi itu lebih tingi dari 2,46% pada kuartal I/2019.

Bank Indonesia menyebut tekanan inflasi pada kuartal II/2019 dipengaruhi kenaikan harga kelompok bahan makanan. Kondisi itu akibat permintaan tinggi yang terjadi pada hari besar keagamaan nasional di tengah produksi hortikultura, khususnya tomat sayur, yang masih terbatas.

Namun, bank sentral meyakini tekanan inflasi Sulut akan mereda pada kuartal III/2019. Proyeksi itu sejalan dengan meningkatnya pasokan hortikultura seperti bawang merah dan tomat sayur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, sulut

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top