OJK Sulut Optimistis Kredit dan DPK Tumbuh Dua Digit

Hingga akhir semester I/2019, pertumbuhan bisnis perbankan di Sulawesi Utara tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan secara nasional. Regulator optimistis tren itu masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  20:00 WIB
OJK Sulut Optimistis Kredit dan DPK Tumbuh Dua Digit
Karyawan menjawab telepon di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, MANADO – Hingga akhir semester I/2019, pertumbuhan bisnis perbankan di Sulawesi Utara tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan secara nasional. Regulator optimistis tren itu masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara (Sulutgomalut) Slamet Wibowo mengatakan bahwa secara umum bisnis perbankan di Sulut menunjukkan pertumbuhan positif.

“Pertumbuhannya cukup positif, baik dari total aset, kredit, dan DPK tumbuh semua, artinya secara market Sulawesi Utara masih tumbuh dengan bagus. Saya kira ini sejalan juga dengan gencar-gencarnya pertumbuhan pariwisata dan sebagainya di Sulawesi Utara,” katanya kepada Bisnis, Senin (20/8/2019).

Dia menuturkan, total aset perbankan di Sulut mencapai Rp53,38 triliun. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, total aset itu mengalami pertumbuhan 16,07%. Pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 7,74%.

Sementara itu, penyaluran kredit di Sulut tercatat sebesar Rp38,67 triliun, tumbuh 9,79% secara tahunan. Pertumbuhan fungsi intermediasi tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Juni 2018 sebesar 7,32%.

Adapun total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp26,15 triliun, tumbuh 8,22% dibandingkan Juni tahun lalu. Komposisi DPK didominasi oleh jenis simpanan tabungan yang mencapai Rp12,32 triliun, tumbuh 8,23% secara tahunan.

Gencarnya penyaluran kredit membuat rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) mencapai 147,84%. Tingkat LDR itu tercatat lebih tinggi dibandingkan LDR perbankan secara nasional yang mencapai 94,28%.

“Sulut memang bukan daerah pengumpul dana, lebih banyak itu dana dari daerah lain yang justru disalurkan di Sulawesi Utara. Artinya ini menggambarkan bahwa sebagai pasar penyaluran kredit, Sulut masih menarik untuk perbankan,” jelasnya.

Berdasarkan jenisnya, kredit konsumsi masih mendominasi penyaluran kredit perbankan di Sulut. Kredit konsumsi tercatat senilai Rp22,78 triliun atau 58,9% dari total kredit. Adapun, kredit investasi dan kredit modal kerja masing-masing mencapai Rp5,58 triliun dan Rp10,3 triliun.

Kredit investasi tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi, yakni 24,27% secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masig tumbuh 11,67% dan 5,96% secara tahunan.

Slamet menuturkan, pesatnya pertumbuhan kredit investasi berkaitan dengan pengembangan infrastruktur di Sulut. Penyaluran kredit jangka panjang ini lebih banyak disalurkan kepada sektor perhotelan, kawasan pertokoan, dan rumah sakit.

“Hal itu memang sejalan dengan rencana pengembangan infrastruktur, tentunya ini mendorong kredit investasi di Sulut. Contohnya nanti akan ada jalan tol, orang sudah antisipasi dengan ambil kredit investasi untuk manfaatkan akses jalan itu untuk bisnisnya ke depan,” katanya.

Namun demikian, pertumbuhan kredit tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Hingga akhir Juni NPL Sulut mencapai 3,5%, naik dari posisi pada Juni 2018 sebesar 3,14%.

Berdasarkan jenis kreditnya, NPL kredit konsumsi mengalami pembengkakan, dari 2,26% pada Juni 2018, menjadi 2,66% pada akhir semester I/2019. Kredit investasi dan kredit modal kerja justru mengalami perbaikan, masing-masing menjadi 5,06% dan 2,66%.

Slamet mengatakan bahwa pemburukan kualitas kredit itu berhubungan erat dengan jenis kredit tanpa agunan (KTA) payroll yang mendominasi kredit konsumsi Sulut. Menurutnya, bank perlu meningkatkan penilaian scoring debitur dalam menyaluran kredit tersebut.

“Artinya begini, bank kan membuat analisa scoring sifatnya biasanya kaya kolektif, padahal berbeda-beda debiturnya. Bank harus lebih memperhatikan track record debiturnya. Saya pikir peningkatannya karena dari internal banknya, dan juga mungkin kondisi debiturnya saat ini,” jelasnya.

Secara umum, pertumbuhan kredit dan DPK perbankan di Sulut hingga Juni lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Pada semester I/2018, pertumbuhan kredit mencapai 7,32%, sedangkan DPK menurun 4,75%.

OJK Sulutgomalut optimistis tren pertumbuhan kredit dan DPK itu masih dapat terjaga, hingga menembus angka dua digit pada akhir tahun. Dia juga optimistis bank-bank di Sulut dapat mencapai target sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ojk, sulut

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top