OJK Sulutgomalut Pacu Indeks Literasi & Inklusi Keuangan Sulut

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara (Sulutgomalut) mendorong seluruh pelaku industri keuangan dan pasar modal untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Utara.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 10 Juli 2019  |  18:50 WIB
OJK Sulutgomalut Pacu Indeks Literasi & Inklusi Keuangan Sulut
Karyawan melintas di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK) - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, MANADO—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara (Sulutgomalut) mendorong seluruh pelaku industri keuangan dan pasar modal untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Utara.

Kelapa OJK Sulutgomalut Slamet Wibowo mengatakan bahwa tahun depan indeks literasi dan inkluasi keuangan secara nasional ditargetkan masing-masing 35% dan 75%. Menurutnya, target tersebut harus dicapai dengan seluruh pelaku industri.

“Tentunya OJK mempunyai kewajiban untuk mendorong inklusi keuangan. Perbankan, IKNB, dan pasar modal kami ajak untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan. Bukan hanya terakses, tapi masyarakat juga harus paham produk dan haknya,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (10/7/2019).

Dia mengatakan, OJK selama ini aktif memberikan sosialisasi ke masyarakat di sekitar Sulutgomalut. Dalam sosialisasi yang dilakukan, regulator juga mengajak pelaku industri jasa keuangan untuk sekaligus memasarkan produknya.

“Kami bersama-sama dengan industri, misalkan Pasar Modal, Pegadaian, dan sebagainya, kalau perbankan mungkin sudah lumayan baik ya, tapi yang lain-lain itu kan masih perlu didorong terus,” katanya.

Dia menuturkan, pola sosialisasi yang dilakukan OJK selama ini melibatkan komunitas ataupun para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain memperkenalkan produk jasa keuangan, OJK juga memberikan pelatihan terkait manajemen laporan keuangan.

Menurutnya, salah satu kesulitan yang dihadapi pelaku usaha untuk mengakses layanan keuangan adalah tidak adanya laporan atau catatan arus kas yang baik. Selain itu, penggunaan kas untuk modal kerja dan kebutuhan pribadi juga masih sering tercampur.

“Oleh karena itu, minimal mereka harus punya catatan, dia punya utang berapa, belanja berapa, supaya mereka bisa mengatur arus kasnya. Kami juga selalu menggandeng industri, memberi kesempatan untuk menyampaikan produknya, Pegadaian misalnya kan produknya banyak, tidak hanya gadai,” tuturnya.

Ke depan, dia mengatakan bahwa OJK juga akan melakukan sosialisasi kepada para pedagang di pasar. OJK, lanjutnya akan bekerja sama dengan Pemerintah Kota untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan para pedagang.

Pasalnya, pedagang di pasar banyak yang belum terakses layanan keuangan sehingga mengandalkan jasa rentenir. Bunga yang tinggi membuat mereka membebankan hal itu kepada konsumen dengan meningkatkan margin penjualan.

“Kami akan bersinergi dengan Pemkot, misalkan melalui PD pasarnya. Kami lihat masalah utamanya seperti apa, apakah sumber pendanaannya atau seperti apa, kami juga akan ajak bank daerah atau bank pemerintah, harapannya kalau pembiayaannya jadi murah. Sementara ini kami masih menentukan pilot project-nya dulu di mana dan seperti apa,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ojk, sulut, literasi keuangan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top