Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hambatan Komunikasi Ganjal Ekspor Bitung-Filipina

Hambatan komunikasi antara operator dan konsolidator dalam rencana pelayaran niaga dengan rute Davao-Bitung-Ho Chin Minh City menjadi kendala utama. Pemerintah memutuskan untuk masuk dan menengahi persoalan itu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  20:47 WIB
Aktivitas bongkar muat di terminal petikemas - JIBI/Paulus Tandi Bone
Aktivitas bongkar muat di terminal petikemas - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MANADO – Hambatan komunikasi antara operator dan konsolidator dalam rencana pelayaran niaga dengan rute Davao-Bitung-Ho Chin Minh City menjadi kendala utama. Pemerintah memutuskan untuk masuk dan menengahi persoalan itu.

Vessel Operation & Bunker Trade Officer Reefer Express Line Filipinas Inc. Alexander F. Villadores Jr. mengatakan bahwa kendala utama bukan ketidakcocokan harga. Nihilnya komoditas yang dibawa dari pelayaran ke Bitung pada 11 Juli bermuara dari komunikasi yang buruk dengan konsolidator.

“Sebenarnya yang menjadi masalah adalah tidak adanya komunikasi langsung dari kami dengan pemilik kargo atau eksportir. Kami tidak memkiliki itu. Kami berkomunikasi dengan pihak yang mengatakan memiliki barang, tapi sebenarnya tidak,” katanya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Menurutnya, pihak konsolidator tidak pernah memberikan kesempatan kepada Reefer Express untuk berkomunikasi langsung dengan eksportir. Hal itu membuat kesepakatan harga sulit tercapai karena konsolidator diduga meminta komisi.

Villadores Jr. menjelaskan, dia pernah mengontal suplier jagung di Sulut dan menyepakati harga sebesar US$285 per metrik ton. Namun, pihak konsolidator meminta harga yang lebih besar untuk komoditas itu, sekitar US$350 per metrik ton jagung.

Meski demikian, dia tetap optimistis dapat merealisasikan pelayaran tersebut dengan baik di masa depan. Dia mengatakan, pihaknya kini tak lagi berkomunikasi dengan konsolidator itu, melainkan langsung dijembatani oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Sulut.

“Sekarang kami berkomunikasi dengan pihak yang dapat dipercaya, yakni perwakilan dari Kementerian Perdagangan dan ini adalah hal yang baik karena mereka terbuka untuk itu. Dan mereka berjanji untuk memfasilitasi kami agar bisa mengangkut kargo dari Sulut,” ujar perwakilan dari operator kapal Baltic Summer itu.

Menurutnya, Sulut memiliki potensi yang baik untuk ekspor ke Filipina. Pembeli di negaranya juga tidak bermasalah untuk membeli produk ekspor dari Sulut, seperti Kelapa, jagung, hasil perikanan, dan semen.

Dia juga mengapresiasi langkah Indonesia yang memberikan sejumlah kemudahan dalam pelayaran ini. Salah satunya adalah dengan memberi potongan biaya pelabuhan sebesar 50%. Pemerintah Filipina, lanjutnya, juga memberikan subsidi serupa.

Insentif itu membuat Reefer Express terbuka untuk menurunkan biaya pengiriman yang sebelumnya dipatok US$1.600 per kontainer ukuran 40 kaki. Namun harga baru masih perlu dibahas secara internal dan baru akan diumumkan pada awal bulan depan.

“Kami berupaya untuk menekan biaya operasional dan berterima kasih karena Indonesia memfasilitasi itu. Kami belum memiliki harga baru, tapi kami pasti akan mengevaluasinya dan akan mengumumkan pada pekan pertama Agustus bersama dengan jadwal pelayaran baru,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Vice Chairman BIMPT-EAGA Business Council Indonesia Daniel Pesik yang selama ini menjadi konsolidator menampik semua tuduhan Reefer Express. Menurutnya, selama ini dia hanya menjalankan fungsinya membantu memfasilitasi ekspor itu.

“Awalnya mereka minta kami fasilitasi, sekarang kalau mereka mau minta langsung, ya silakan, tetapi kan mereka tidak megerti di sni? Memang bsia komunikasi langsung? Mereka kan harus ada di sini, mereka itu juga cuma broker,” katanya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Daniel menjelaskan, dia hanya menjadi penyambung lidah para eksportir yang belum yakin dengan jasa pelayaran Reefer Express. Dia juga mengaku tidak pernah mempermainkan harga atau sengaja mengambil margin dalam harga komoditas yang ditawarkan.

Dia menilai Reefer Express menawarkan juga menawarkan harga yang tidak masuk akal. Pengurangan biaya hanya akan diberikan jika bisa menjamin pengiriman minimal sebanyak 200 kontainer. Di sisi lain, kata dia, tidak mungkin eksportir memindahkan semua pengirimannya ke kapal itu.

“Permintaan mereka terlalu mahal, mereka ada diskon tapi harus jamin 200 kontainer baru diskon jadi US$.1000. Dulu saja waktu Super Shuttle RoRo 12 US$700 masih minta diskon jadi US$500, apalagi sebesar itu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Jenny Karouw mengatakan bahwa pihaknya kini memfasilitasi komunikasi langsung antara Reefer Express dengan para eksportir. Namun, pihaknya tidak mengambil peran konsolidator yang selama ini diemban Daniel.

Disperindag Sulut juga telah mengundang calon konsolidator lain untuk menjalankan peran itu. Hal itu juga diiringi dengan upaya pemberian sejumlah insentif yang akan diberikan dalam kegiatan ekspor itu. Pihak swasta diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini secara optimal.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian untuk  mengurus keberlangsungan pelayaran ini, kami sudah minta memfasilitasi supaya pelaku usaha di tingkat nasional juga dapat ikut serta dalam program ini,” jelasnya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor filipina bitung jalur pelayaran davao
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top